Kasih dalam Tindakan

Laporan dari Jepang

Berlatih Semangat Kristus
dengan Berbagi Kasih Kristus

Oleh Grup Berita Gunma (Asal dalam bahasa Jepang)

Pada tahun 1988, Guru mengingatkan para murid di seluruh dunia bahwa Natal adalah saat untuk berbagi kasih dan perhatian dengan kaum fakir miskin. Sejak itu, setiap tahunnya para inisiat di Center Gunma mengikuti saran Guru dengan membagikan bingkisan Natal kepada teman tunawisma di Gunma dan perfektur sekitarnya. Bingkisan tahun ini terdiri dari pakaian dalam, mantel panjang, celana panjang, kaus kaki, selendang, sarung tangan, topi, obat influenza, penghangat tangan, makanan berkah, buah-buahan, dan kue keberuntungan yang berisi kata-kata mutiara Guru. Barang yang paling diminati adalah mantel yang bagian dalamnya dilapisi kain flanel dengan penutup kepala yang dapat menjaga pemakainya sehangat di dalam sebuah kantong tidur.

Karena para tunawisma terus berpindah-pindah, maka sangatlah sulit menemukan mereka meskipun para inisiat telah mendapatkan informasi tentang lokasi yang sering mereka singgahi. Untungnya, ada Guru yang selalu menuntun para murid kepada mereka yang paling membutuhkan.

Misalnya, dekat pinggir sungai di bawah Jembatan Batu Gunma, para inisiat bertemu dengan seorang laki-laki cacat yang kedua kakinya patah akibat peristiwa tabrak lari; tulangnya tidak dapat tumbuh karena tidak mendapat perawatan medis. Melihat kondisinya, para praktisi memberinya tongkat penopang dan beberapa penghangat tangan yang diterimanya dengan senyum kekanak-kanakan yang tak terlupakan. Seorang lelaki tunawisma yang lain dengan emosi meluap-luap menyambut bingkisan dari inisiat. Ia menjadi salah tingkah, karena ini merupakan pengalaman barunya. Para saudara dan saudari juga menemukan seseorang yang baru saja keluar dari penjara. Ia sedang jongkok di luar gedung tanpa makanan maupun tempat penampungan. Selain itu, ada juga seorang wanita tua yang terus berjalan tanpa makanan selama tiga hari. Ia sedang duduk di kursi pinggir jalan di tengah malam. Keagungan Guru telah membimbing para inisiat kepada orang-orang tersebut satu per satu, sehingga mereka bisa mendapatkan pemberian kasih-Nya.

Berikutnya, di sebuah taman, dua orang pekerja sukarelawan yang berpakaian lusuh sedang sibuk menyapu daun-daun yang berguguran. Mereka menerima hadiah dan mengungkapkan, ”Segera setelah kami melakukan hal yang baik, Tuhan mengirim bingkisan untuk kami! Mulai besok, menyapu daun-daun akan menjadi tugas yang lebih menyenangkan.” Mereka terus melambaikan tangannya hingga para praktisi lenyap dari pandangan. Peristiwa lainnya yang mengesankan adalah saat kami melihat seorang tunawisma yang tidak peduli terhadap keadaannya sendiri dan dengan murah hati memberikan bingkisan kami kepada seorang lelaki miskin yang keadaannya lebih menyedihkan. Para inisiat Gunma merasa sangat tersentuh oleh tindakannya lalu memberinya sebuah bingkisan lagi.

Sesusai jadwal, para inisiat kemudian berangkat menuju tujuan selanjutnya. Saat itu pemandu mereka menuntun ke arah yang salah; mereka dibawa ke tempat seorang tunawisma. Kondisinya adalah yang terburuk yang pernah mereka lihat dalam delapan tahun ini. Para inisiat sangat terkejut melihat tangannya yang  bengkak kemerahan saat ia mengulurkan tangannya untuk menerima bingkisan. Para inisiat kemudian bertanya, ”Ada apa? Anda sakit?” Lelaki itu kemudian menjawab, “Ada yang tidak beres dengan jantung saya.” Wajah dan kakinya terlihat bengkak serta berwarna merah, sepatunya terlihat terlalu kecil dan sempit, dan kakinya akan kesakitan walaupun hanya disentuh pelan. Karena itu, para praktisi dengan segera pergi ke apotek terdekat untuk mencari obat. Setelah itu, para inisiat menyarankan agar ia memeriksakan dirinya ke dokter serta memberinya uang untuk biaya berobat. Lelaki itu kemudian mengenakan mantel, penutup kepala, dan memasukkan tangannya yang bengkak ke dalam sarung tangan yang diberikan inisiat. “Sarung tangan yang bagus,” katanya sambil tersenyum. Ia pun segera lenyap saat inisiat menoleh ke belakang. Akan tetapi, para inisiat sangat prihatin dengan keadaan lelaki itu dan segera menelepon organisasi yang merawat para tunawisma untuk memberikan bantuan lebih lanjut. Ini adalah pertama kalinya para inisiat mengunjungi daerah tempat lelaki tunawisma tersebut tinggal. Jelaslah bahwa Guru telah menuntun mereka kepadanya. Dengan cara yang sama Ia memancarkan Kasih-Nya yang tak terbatas kepada setiap anak Tuhan di setiap sudut planet dan belas kasih-Nya meliputi semua makhluk.

Selama Natal tahun 2005, terang yang dipancarkan lampu hias di jalan-jalan hanyalah merupakan suasana beku dan saat kesepian bagi para tunawisma. Oleh sebab itu, para praktisi Gunma sangat berterima kasih kepada Guru atas bimbingan dan kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk menjadi alat Tuhan dalam melayani para fakir miskin.

Belakangan ini semakin banyak orang di seluruh dunia yang secara serentak turut membantu mereka yang kurang beruntung. Ini merupakan hasil dari peningkatan kesadaran bumi yang dilakukan Guru. Dan pada tahun ini, pada hari Natal yang  kudus, Cahaya Tuhan turut menyinari sudut-sudut kegelapan dan mengingatkan kita akan arti liburan yang sesungguhnya. Guru, kami berterima kasih pada-Mu dari hati yang paling dalam!