Laporan dari Au Lac

Guru
Senantiasa Mengurus
Semua Makhluk
Diringkas oleh Saudara Hung
Ngo, Los Angeles, California, Amerika Serikat
(Asal dalam bahasa Aulac)
Pada akhir bulan Oktober 2005, angin topan yang ketujuh
di Aulac telah menyebabkan banjir yang berkepanjangan dan hilangnya
banyak nyawa, terutama di dekat kota Binh Dinh. Para inisiat lokal
segera melaporkan tragedi ini ke Center Hsihu yang segera memberikan
bantuan dana sebesar US$ 10.000 untuk upaya bantuan. Sebagai tambahan,
para inisiat dari Aulac dan Amerika Serikat juga menyumbangkan jumlah
yang sama untuk menolong para korban banjir tersebut.
Kemudian, pada minggu pertama bulan November 2005,
sekelompok inisiat dari Amerika Serikat segera berangkat ke Au Lac
untuk bergabung dengan inisiat lokal dalam proyek bantuan tersebut.
Pada saat itu, negara tersebut sedang terkena badai yang kedelapan yang
memperburuk bencana banjir ini. Tetapi, kekuatan yang menghancurkan itu
secara ajaib telah berkurang karena angin topan tersebut berbalik
menjauh ke sepanjang pantai. Keanehan peristiwa ini dikomentari oleh
peramal cuaca di TV, ”Badai tersebut telah melalui jalur yang aneh.”
Para inisiat secara diam-diam berterima kasih kepada Guru karena telah
memberkahi tanah kelahiran mereka dan membantu menghindari bencana yang
lebih parah.
Pada tanggal 5 November, tim bantuan dari Amerika
Serikat melakukan perjalanan menuju provinsi Quy Nhon. Di sana mereka
bertemu dengan para inisiat setempat yang telah memulai upaya bantuan.
Selain membantu para korban yang anggota keluarganya meninggal dunia
akibat banjir tersebut, para inisiat juga menolong para manula, orang
miskin, anak-anak, serta mereka yang sedang dalam situasi sulit
lainnya. Dukungan itu mencakup bantuan keuangan dan makanan yang berupa
gula, mi instan, minyak goreng, bumbu masak, sabun, sampo, susu, dan
barang-barang keperluan lainnya.
Untuk menghemat waktu, para pekerja bantuan tersebut
menyewa van (mobil gerbong) yang dapat memuat lima belas penumpang
untuk mencapai kota-kota yang terkena bencana di Aulac tengah, termasuk
Quang Ngai. Di sana mereka disambut dengan antusias oleh para inisiat
lokal bagaikan kawan-kawan lama. Tim tersebut kemudian merencanakan
misi bantuan dan sepakat untuk memulai bekerja pada jam tujuh pagi di
hari berikutnya.
Dari Quang Ngai, para inisiat melakukan perjalanan
dengan sepeda motor untuk mencapai area banjir. Jalan-jalan di desa
setempat sangat berlumpur dan berlubang. Rumah-rumah di daerah ini juga
rusak berat karena rumah-rumah tersebut dibangun dengan konstruksi
gubuk sederhana yang menggunakan dedaunan sebagai atap dan anyaman
bambu untuk dinding. Oleh karena itu, terpaan angin yang pelan saja
dapat mengayunkan rumah-rumah tersebut ke depan dan ke belakang
bagaikan sarang laba-laba. Selain itu, rumah-rumah itu penuh sesak oleh
anak-anak kecil serta wanita tua yang terganggu penglihatannya. Saat
para korban menerima uang dan barang bantuan, mereka menangis dan
merasa seakan berada dalam mimpi.
Para inisiat juga menolong para korban di Quang Nam,
dekat Quang Ngai. Saat berada di sana, mereka merasa sangat tersentuh
terhadap situasi yang terjadi. Sebagai contoh, saat badai menerpa,
ukuran rumah dari suatu keluarga miskin yang terdiri dari orang tua
yang sakit dengan empat orang anak kecil menyusut menjadi dua meter
persegi.
Setelah meninggalkan Quang Ngai, tim bantuan menuju ke
kota Da Nang. Di sana mereka mendirikan pangkalan dengan tujuan untuk
mencapai daerah di sekitar area yang terkena bencana. Pegawai
pemerintah setempat dengan antusias membantu usaha pertolongan
tersebut. Mereka menyiapkan daftar orang-orang yang membutuhkan
bantuan, serta memandu tim bantuan untuk mencapai daerah yang hancur.
Pertama-tama tim memberikan bantuan keuangan kepada sekolah dasar
setempat untuk membantu membangun kembali atap bangunan sekolah yang
telah mengalami kerusakan. Kepala sekolah setempat merasa berterima
kasih dan berharap agar para inisiat akan mendapatkan banyak
keberuntungan pada misi mereka yang berikutnya.
Tim penyelamat kemudian menyediakan bantuan untuk
penduduk dari dua desa yang berdekatan. Wakil masyarakat di daerah
tersebut menyambut mereka dengan hangat dan menginformasikan bahwa
berapa pun jumlah uang yang mereka terima, akan dibagikan merata kepada
para penduduk desa tersebut, karena mereka menganut prinsip persamaan
hak bagi semua orang. Seorang anak lelaki yang menuntun para rekan
sepelatihan ke tempat tujuan berikutnya sama sekali tidak mau menerima
uang yang ditawarkan. Ia berkata, “Kita semua saling tolong-menolong.”
Setelah misi di Da Nang selesai, tim bantuan langsung
menuju ke Hue, ibukota Aulac di zaman dahulu. Mereka sampai di sana
pada malam hari. Saat tiba di tempat tujuan, mereka disambut dengan
ramah oleh para penduduk setempat yang penuh kelembutan hati. Mereka
juga menyuguhkan makanan bagi para inisiat di atas piring kecil yang
cantik.
Pada pagi berikutnya, wakil pemerintah setempat membawa
para rekan sepelatihan ke area yang terkena bencana lainnya. Mereka
memberikan uang kepada para keluarga yang telah kehilangan hartanya
dalam badai itu. Di sana, para saudara dan saudari sepelatihan juga
mendengar banyak cerita yang memilukan hati tentang para korban. Di
dalam hati mereka berdoa kepada Guru untuk melimpahkan berkah-Nya. Para
inisiat juga tak lupa berterima kasih kepada Guru atas kasih serta
kepedulian-Nya terhadap para korban.
Tim tersebut juga melakukan perjalanan ke provinsi Quang
Tri dan Quang Binh yang hanya mengalami kerusakan kecil dibandingkan
dengan tempat-tempat lainnya. Di sana mereka juga memberikan bantuan
keuangan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dalam perjalanan ke kota
Quang Binh, para inisiat mengalami saat yang berkesan saat mereka
melintasi Jembatan Hien Luong di atas Sungai Ben Hai yang membagi Au
Lac menjadi dua bagian - daerah Utara dan Selatan.
Setelah beristirahat di pangkalan mereka di Hue, para
inisiat meninjau kembali kegiatan mereka dan memutuskan untuk
memperluas jangkauan bantuan mereka kepada penduduk Quang Ngai dan Quy
Nhon. Karena itu, di pagi berikutnya mereka melakukan perjalanan
kembali ke Quang Ngai.
Selama berlangsungnya upaya bantuan tersebut, sopir yang
membawa tim sangatlah sopan dan menghormati ajaran Guru. Sebagai
contoh, ia tidak pernah merokok di dalam mobil, senantiasa mencari
restoran vegetarian bagi para inisiat sebelum makan makanannya sendiri,
dan memberikan penjelasan tentang kejadian/bangunan yang bersejarah.
Selain itu, selama perjalanan ia tidak mempedulikan jalan yang
tergenang maupun berlubang. Dia membantu para saudara sepelatihan
dengan tulus, karena dia tahu bahwa mereka melakukan misi penyelamatan
ini demi saudara setanah airnya sendiri. Karena itu, para inisiat
secara diam-diam berterima kasih kepada Guru karena telah mengutus
penolong yang setia dalam misi mereka yang panjang itu.
Di Quang Ngai, tim bantuan bergabung dengan para inisiat lokal yang
membantu tugas pertolongan tersebut. Saat di Quy Nhon, mereka bertemu
dengan Palang Merah setempat dan menggabungkan kekuatan untuk
mendistribusikan barang-barang yang dibutuhkan kepada para penduduk di
pulau Nhon Hai.
Kembali ke Quy Nhon, tim bantuan diberi informasi
mengenai area yang terkena bencana banjir lainnya di daerah Tuy Phuoc,
kira-kira setengah jam perjalanan dari Quy Nhon. Karena itu, setelah
istirahat makan siang yang singkat, para inisiat bergegas menuju daerah
tersebut untuk menyampaikan kasih Guru serta bantuan keuangan.
Setelah menyelesaikan upaya bantuan di Au Lac tengah
tersebut, para inisiat dari Amerika Serikat terbang kembali ke Saigon
dengan perasaan yang bercampur antara gembira dan sedih. Sejak
angin topan tersebut, area yang terkena bencana banjir masih berada
dalam keadaan miskin. Sistem tanggul setempat belumlah cukup efektif
untuk mencegah terjadinya air bah setiap tahunnya. Karena itu, para
inisiat berdoa kepada Yang Mahatinggi untuk memberkahi Au Lac, karena
negara itu masih dilanda oleh banyak kesulitan.
Para inisiat di Aulac sangatlah berterima kasih kepada
Guru karena telah mengatur kesempatan bagi mereka untuk kembali ke
tanah kelahiran mereka setelah berpisah sekian tahun lamanya. Terima
kasih, Guru, atas kebahagiaan serta hari esok yang Kau berikan dimana
semua jiwa dapat kembali ke tempat Asal mereka.
Catatan Tambahan: Kami sangat
terkesan atas bantuan yang penuh kasih yang diberikan oleh Pemerintah
Aulac serta Palang Merah kepada Grup Bantuan kami.♥
|