Kasih dalam Tindakan

Laporan dari Prancis

 

Perjalanan Penuh Kasih
ke ‘Rumania-Prancis’

Oleh Tim Bantuan Paris (Asal dalam bahasa Prancis)

Pada bulan Oktober 2005, di stasiun (metro ekspres) Massy Palaisseau RER Paris, dua orang saudari-inisiat Paris bertemu dengan seorang wanita Rumania yang membutuhkan bantuan. Wanita tersebut tidak bisa berbahasa Prancis maupun Inggris. Akan tetapi, melalui bahasa isyarat ia memberitahu bahwa ia membutuhkan selimut. Oleh karena itu, setelah meditasi kelompok, pada tanggal 16 Oktober, kedua saudari-inisiat tersebut membawa beberapa pakaian hangat dan selimut untuk wanita tersebut. Hal ini merupakan permulaan perjalanan mereka di ‘Rumania Prancis’.

Pada hari itu, wanita tersebut membawa kedua saudari sepelatihan ke tempat yang disediakan oleh pemerintah untuk para imigran. Tempat itu mirip dengan sebuah hutan kecil di luar kota Paris. Setelah berjalan dan mendaki selama lima belas menit, ketiga wanita tersebut memasuki suatu kamp yang dihuni oleh warga negara Rumania yang telah meninggalkan negara mereka karena dilanda kemiskinan.

Setelah melewatkan beberapa waktu bersama dengan para penghuni kamp yang miskin itu, kedua saudari-inisiat memutuskan untuk mendiskusikan situasi para imigran tersebut dengan para inisiat lain di Center Paris, lalu meminta bantuan keuangan kepada Center Hsihu sebanyak US$ 3.500.

Setelah menerima dana bantuan, para inisiat mengunjungi kembali kamp tersebut pada hari Minggu berikutnya. Berkat rahmat dari Guru, mereka memberikan selimut, makanan vegetarian yang hangat, keju, roti, sayuran, dan obat-obatan kepada para penghuni kamp tersebut. Akan tetapi, sangatlah sulit untuk dapat mengetahui barang-barang apa saja yang masih mereka butuhkan, karena bahasa yang mereka kuasai hanyalah bahasa Rumania dan Italia. Selain itu, mereka juga berhati-hati dan cenderung menyembunyikan identitas mereka. Pada tanggal 6 November, setelah berusaha dengan gigih, para inisiat pada akhirnya menemukan cara untuk menembus hati para pengungsi tersebut. Kali ini, sebelum mendistribusikan barang-barang bantuan, para saudari inisiat menjelaskan kepada para imigran tentang dedikasi, upaya, cinta, dan belas kasih Guru bagi semua makhluk dan Dia bermaksud menolong mereka tanpa meminta balasan apa pun.

Beberapa saat kemudian, terjadilah keajaiban! Beberapa pengungsi Rumania tersebut mulai menangis sambil memuji Guru. Mereka kemudian mengizinkan para saudara-saudari sepelatihan untuk masuk dan menghitung jumlah penghuni serta jumlah rumah dalam kamp tersebut. Mereka mendiskusikan pula barang-barang keperluan lainnya yang mereka butuhkan. Tim bantuan kemudian memperlihatkan daftar barang yang telah mereka catat. Di luar dugaan, para pengungsi tersebut mulai mengelu-elukan Guru. Para inisiat juga berjanji untuk membawa para pengungsi yang membutuhkan pelayanan medis ke klinik gratis.

Sebagai tambahan, tim juga berkata bahwa mereka akan mencarikan jalan bagi para imigran agar mereka dapat mengirimkan anak-anak mereka yang termuda untuk mempelajari bahasa Prancis supaya di tahun-tahun berikutnya, saat Rumania memasuki Komunitas Eropa, mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang dapat meningkatkan taraf kehidupan mereka.

Saat tim penyelamat meninggalkan lokasi kamp tersebut, mereka sangat tersentuh oleh lambaian selamat jalan serta sorakan yang hangat dari para imigran. Anggota tim sekali lagi mendapatkan pengalaman di mana kasih Guru selalu menang pada akhirnya. Kasih Guru dapat memberikan harapan dan kebahagiaan, membuka semua pintu, menyucikan semua hati, dan menyembuhkan semua luka. Pada hari berikutnya, sebagaimana yang dijanjikan, para inisiat pergi berbelanja ke toko grosir di seputar Paris untuk membeli barang-barang yang terdapat dalam daftar mereka; seperti topi, sarung tangan, kaus, sepatu wanita, dan berbagai barang sanitasi. Setelah itu, mereka membuat perencanaan untuk mendistribusikan barang-barang tersebut. Secara kebetulan, beberapa saudara sepelatihan dari Spanyol sedang berkunjung ke Center Paris untuk retret bulanan pada akhir minggu tersebut. Mereka dengan tulus bersedia untuk membantu dalam operasi bantuan tersebut.

Pada hari Minggu tanggal 20 November, tim bantuan kembali lagi ke kamp imigran Rumania untuk mendistribusikan barang-barang keperluan. Perilaku para pengungsi tersebut terlihat lebih ramah dan terbuka dibanding sebelumnya. Pertama-tama para inisiat mendistribusikan foto Guru kita yang terkasih sambil menjelaskan bahwa hadiah tersebut berasal dari-Nya. Setelah itu, para imigran juga diberitahukan bahwa Guru akan selalu menolong jika mereka berdoa kepada-Nya; karena Guru merupakan Orang Suci hidup yang agung dan selalu menjawab doa-doa kita. Setelah mendengar kalimat itu, para pengungsi merasa sangat tersentuh dan beberapa di antara mereka bahkan menangis.

Kemudian, pada tanggal 4 Desember, sebagai ganti atas janji mereka untuk membawa para imigran tersebut ke klinik gratis, seorang dokter Prancis yang merupakan teman dari seorang inisiat, ikut serta mengunjungi para pengungsi Rumania tersebut untuk melakukan pemeriksaan medis. Pada saat yang sama, para inisiat membawa barang-barang yang tak bisa didapatkan oleh para imigran seperti kanvas untuk menutup gubuk mereka dan kereta dorong untuk membawa air. Setelah memeriksa mereka yang membutuhkan perhatian medis, dokter tersebut tidak menemukan penyakit yang akut di antara para pengungsi tersebut; hanya ditemukan beberapa penyakit yang berhubungan dengan cuaca yang dingin serta keadaan yang lembab. Dokter tersebut kemudian membagikan obat yang diperlukan dan dapat menyimpulkan bahwa secara keseluruhan para pengungsi tersebut berada dalam kondisi yang sehat meskipun mereka menjalani kehidupan yang keras.

Untuk menghibur jiwa para pengungsi itu, para inisiat juga mendistribusikan beberapa publikasi Guru dalam bahasa Rumania dan berdoa kepada-Nya agar kata-kata-Nya dapat memberkahi para imigran dan mengangkat mereka ke konsep pemikiran dan kehidupan yang lebih tinggi. Para wanita dalam kamp tersebut sangat tersentuh atas sikap yang ramah dari para saudara-saudari sepelatihan yang merangkul mereka dengan penuh kasih. Seorang lelaki bahkan dengan diam-diam terisak saat membaca ajaran Guru.

Pada saat penulisan naskah ini, untuk memperoleh perpanjangan dari visa mereka yang hanya berlaku untuk tiga bulan saja, para pengungsi Rumania tersebut membawa serta harapan dari para inisiat agar perjalanan mereka menjadi mulus. Para inisiat juga berdoa kepada Guru agar menyertai para pengungsi tersebut selamanya.