|
Sesuai namanya, flu burung adalah sejenis penyakit yang
disebabkan oleh virus yang ditemukan pada burung, tetapi bisa juga
menjangkiti beberapa jenis mamalia lainnya. Manusia yang dijangkiti
virus flu ini mempunyai gejala penyakit yang sama seperti flu pada
umumnya, tetapi flu burung bisa menimbulkan demam hingga mencapai 41
°C (105,8 °F). Selain itu, organ hati juga akan terpengaruh,
sel limfa akan menurun, pernapasan menjadi sulit, dan kegagalan organ
bisa terjadi. Oleh karena itu, flu burung dapat menyebabkan kematian.
Pandangan mengenai masalah flu burung ini sangat berbeda-beda; ada yang
menganggap bahwa masalah ini merupakan sebuah ancaman, yang lain
menganggap situasinya terlalu dilebih-lebihkan oleh perusahaan obat
dengan tujuan untuk meraup keuntungan yang besar; ada juga pihak yang
mengatakan bahwa fenomena ini merupakan semacam panggilan untuk menjadi
vegetarian. Mungkin setiap kelompok mempunyai sisi kebenarannya, akan
tetapi isunya perlu ditelaah lebih lanjut.
Pertama-tama, sangat penting untuk dimengerti bahwa
virus yang tidak kelihatan ini adalah sesuatu yang sangat kecil di luar
imajinasi kita. Jika seseorang menulis sebuah titik dengan sebuah pena,
titik itu dapat mengakomodasi ratusan juta virus! Dan juga, virus sudah
ada jauh sebelum manusia ada dan sudah berkembang seperti manusia untuk
bertahan hidup terhadap segala perubahan kondisi dan berjuang untuk
keberadaannya. Ilmuwan menyebut proses ini sebagai “mutasi”,
seakan-akan virus itu muncul secara tiba-tiba dan otomatis. Pada
kenyataaannya, bagaimanapun, secara sadar organisme ini telah
berevolusi. Dan selama manusia terus mengabaikan keberadaan kesadaran
dalam tumbuhan, binatang, dan bahkan mikroorganisme; maka kita akan
gagal menemukan solusi efektif terhadap masalah yang disebabkan oleh
virus ini.
Dalam memandang isu mengenai flu burung ini, seseorang
pertama-tama harus mengerti mengapa virus itu ada. Seperti bakteri dan
organisme mikroskospis lainnya, mereka hidup bersama dengan manusia
untuk saling bertahan hidup. Sistem pencernaan kita, dari mulut ke
usus, terisi oleh bakteri dan virus yang hidup secara diam-diam
di berbagai organ, termasuk kulit dan saraf. Jadi, pada dasarnya
manusia sudah dipenuhi oleh makhluk kecil yang kelihatannya seperti
musuh, tetapi mereka pada dasarnya adalah teman yang bisa membantu
pencernaan kita supaya dapat berfungsi dengan benar, merangsang sistem
kekebalan sehingga kita bisa bertahan di berbagai lingkungan, dan
ketika kita meninggal dapat berfungsi sebagai pembuangan sampah yang
akan menguraikan tubuh kita, mengembalikan mereka ke bumi dan
memurnikan alam. Dengan demikian, mikroorganisme memainkan peranan yang
sangat penting dalam metabolisme dan kelangsungan hidup makhluk hidup
dan bukanlah sebagai parasit tak berguna yang harus dibasmi.
Di bawah hukum alam, virus menemukan tempat yang cocok
untuk tumbuh dan berkembang, memastikan supaya kehidupan berfungsi
secara harmonis. Akan tetapi, ketika umat manusia membawa malapetaka
dengan menghancurkan habitatnya, maka virus akan berusaha untuk
bertahan di mana mereka dapat diibaratkan seperti pengungsi yang
dipaksa untuk berimigrasi. Di dalam kehidupan manusia, sementara
imigran generasi pertama berjuang untuk beradaptasi dengan lingkungan
baru, generasi baru yang lahir di lingkungan setempat berangsur-angsur
tersesuaikan. Sama halnya, sekali virus tersesuaikan di tempat yang
baru, maka eksitensinya akan menjadi lebih mudah. Sayangnya, umat
manusia pada umumnya terus melakukan kesalahan dan menciptakan masalah
hingga taraf di mana virus tersebut menjadi tak dapat dikendalikan.
Sindrom Pernapasan Akut (SARS) adalah contoh yang bagus
untuk proses ini. Dalam enam bulan, SARS menyerang 29 negara,
menginfeksi 8.400 orang, dan menyebabkan 813 orang meninggal. Asia
sendiri menderita kerugian ekonomi sebesar US$ 40 juta, serta
kerusakan mental dan emosional yang tidak bisa diperkirakan. Sebagai
contoh, pasien SARS dan keluarganya dianggap sebagai monster berbahaya
yang ditakuti dan dihindari oleh masyarakat umum. Situasi ini bagaikan
sebuah skenario tragis terhadap kaum lepra di abad pertengahan dulu!
Ilmuwan dewasa ini menyimpulkan bahwa sepertinya
penyebab dari penyakit SARS adalah virus parasit yang dibawa oleh
kelelawar, yang kemudian menular ke musang. Manusia turut terinfeksi
SARS karena mengkonsumsi binatang ini. Hanya sedikit jumlah manusia
yang memakan musang, akan tetapi kelakuannya menyebabkan bencana yang
luar biasa terhadap umat manusia. Hal ini menunjukan bahwa gangguan
terhadap keseimbangan alam lambat laun dapat menimbulkan akibat yang
tidak terbayangkan.
Jika manusia gagal belajar dari kejadian ini dan tidak
melakukan tindakan pencegahan yang semestinya, maka akibat dari flu
burung ini akan menimbulkan bencana yang jauh lebih besar. Untuk
menggambarkan peristiwa ini, ada pepatah yang mengatakan “meminum racun
untuk melepas dahaga”. Kata-kata ini mungkin bukanlah suatu hal yang
berlebihan. Metode yang sekarang digunakan adalah dengan pembantaian
ternak secara massal. Sebagai contoh, di tahun 1997, flu burung yang
muncul di beberapa bagian Asia menyebabkan enam kematian dan
menginfeksi delapan belas korban lainnya. Selain itu, ada sekitar
1,5 juta ayam dimusnahkan dalam waktu tiga hari. Dan tahun ini, setelah
flu burung merebak lagi, diperkirakan sekitar 150 juta unggas
dimusnahkan dengan dibakar hidup-hidup. Jika Anda pernah terbakar atau
kena panas, maka Anda tentunya dapat turut merasakan sakit yang dialami
olah makhluk ini. Dengan demikian, ada satu pertanyaan yang muncul:
Apakah manusia tidak akan dihukum atas perilakunya sendiri saat
melakukan pembunuhan keji seperti itu? Mungkin kita bisa mengabaikan
kemungkinan balas dendam dari burung-burung yang mati dalam kebencian
ini. Tetapi bisakah kita mengabaikan kenyataan bahwa virus yang mereka
miliki akan dikendalikan oleh insting mereka untuk bertahan hidup dan
mencari tempat yang lain? Sekarang kita tahu bahwa babi telah menjadi
tempat terjangkitnya virus. Akankah kita terus dengan pembunuhan
semacam ini? Setelah kita membunuh semua babi, makhluk apa lagi yang
akan menjadi daftar korban berikutnya? Dan jika daftar terus bertambah,
akankah daftar itu nantinya akan berakhir pada manusia?
Mungkin sangat sedikit orang yang memberikan
pertimbangan mendalam mengapa ada begitu banyak ternak tidak berdosa
yang harus dibunuh. Untuk menurunkan harga daging, industri perternakan
modern menaruh begitu banyak binatang di dalam ruangan yang
sangat sempit. Jadi, jika ada salah satu hewan yang jatuh sakit, maka
penyakitnya akan menyebar dengan cepat. Dengan demikian, manusia merasa
harus menyelamatkan diri mereka sendiri dengan mengorbankan banyak
ternak yang tidak berdosa.
Penyakit Sapi Gila, penyakit kaki-dan-mulut pada babi,
SARS dari musang, dan flu burung; semuanya berasal dari
penyimpangan manusia terhadap hukum alam, dan sebagai akibat dari
banyaknya binatang yang kehilangan nyawa. Manusia adalah penyebab
utamanya. Kita membunuh hanya karena ingin memuaskan nafsu kita. Apa
yang kita lakukan terhadap makhluk lain, maka akan dilakukan terhadap
kita juga. Bahkan seekor virus yang kecil pun mempunyai keinginan untuk
bertahan hidup, apalagi seekor binatang! Manusia mempunyai
keinginan untuk hidup sehingga hak asasi manusia dihormati. Hanya saja
kita harus meneruskan semangat yang sama untuk segala sesuatu di alam
ini, menghormati sang Pencipta dan menghormati segala bentuk kehidupan.
Marilah kita memperlakukan binatang sebagai teman kita dengan
menyayangi dan merawat mereka. Sebagai balasannya, mereka akan membayar
kita dengan berkah tanpa batas dan kejutan yang menyenangkan. Marilah
kita berdoa semoga hari tersebut akan segera datang. ♥
|