Laporan
dari Korea
Sebuah Pusat Kebudayaan dan Kota Industri
Mandi dalam Lautan Kasih Guru
Oleh Grup Berita
Seoul (Asal dalam bahasa Korea)
[Yeongju/Gumi] Pada bulan Oktober
dan November 2005, para inisiat Korea secara berurutan menyelenggarakan
seminar video di kota Yeongju dan Gumi. Yeongju, menurut sejarah adalah
pusat cendekiawan dan terkenal akan Kuil Puseok, kuil kayu Korea yang
ternama, dan Sosu Sewon yang merupakan akademi Konfusius di
Negara tersebut. Secara kontras, Gumi merupakan kota industri yang maju
dan mempunyai peranan penting di negara tersebut.
Seminar di Yeongju diselenggarakan pada
tanggal 23 Oktober di sebuah restoran besar. Sebelumnya para inisiat
mendekorasi tempat penyelenggaraan dengan bunga dan pita. Mereka juga
menyediakan kue beras Korea serta berbagai macam teh untuk para tamu.
Sekitar 80 orang penduduk setempat, termasuk Pimpinan dari Yeongju
Cultural (Kebudayaan Yeongju), Bapak Lee Jong Sun, hadir dalam acara
ini. Bapak Lee pernah menghadiri salah satu seminar video di Busan dan
sangat mengerti tentang Guru maupun Metode Quan Yin. Oleh karena itu,
ia mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para praktisi dengan
mengatakan, “Kegiatan rohani semacam ini sangat diperlukan. Sebagai
penduduk Yeongju, saya sangat menghargai usaha kalian.” Berikutnya,
selama penayangan video, para pengunjung mendengarkan kata-kata Guru
dengan seksama. Mereka benar-benar terserap dalam Kebenaran universal
yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Setelah itu, banyak peserta
yang mengajukan pertanyaan rohani, dan beberapa di antaranya tertarik
untuk mempelajari meditasi Metode Kemudahan. Melalui seminar tersebut,
banyak orang terbangkitkan dan menapak ke dunia rohani yang baru.
Kemudian, pada tanggal 10 November, saudara
dan saudari inisiat juga menyelenggarakan seminar lainnya yang berjudul
‘Membawa Atmosfer Meditatif ke dalam Kota’ di sebuah teater kecil yang
berlokasi di Perpustakaan Kota Gumi. Para tamu yang hadir disuguhi
dengan permainan suling dan suara solo dari para inisiat. Pertunjukan
ini telah mengangkat suasana di tempat tersebut. Setelah penayangan
video, para praktisi mendiskusikan metode meditasi dengan para
pengunjung yang memiliki berbagai latar belakang kepercayaan rohani.
Berdasarkan hasil yang positif dari seminar
di Yeongju dan Gumi, para inisiat Korea merasakan bahwa getaran Cahaya
dan Suara Ilahi telah membimbing kedua kota tersebut ke dalam lautan
cinta kasih. Karenanya, para inisiat berjanji untuk terus berbagi
ajaran Guru. Mereka juga berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan
untuk menginformasikan kepada pencari Kebenaran tentang kekudusan dari
Metode Quan Yin. ♥
Gelombang Kasih
Tuhan
Mencapai
Kota Yeongcheong
Oleh Grup Berita
Daegu (Asal dalam bahasa Korea)
[Yeongcheon] Pada tanggal 27 November
2005, rekan-rekan inisiat setempat menyelenggarakan seminar video di
Yeongcheon, suatu kota kecil yang terletak di Provinsi Gyeongbuk.
Saudara dan saudari sepelatihan merasakan kegembiraan yang luar biasa
dengan adanya kesempatan untuk menjadi tuan rumah seminar tersebut
karena kegiatan seperti ini biasanya berlangsung di daerah kota yang
lebih besar di Korea. Dan walaupun kota Yeongcheon adalah pintu gerbang
lalu lintas menuju ke banyak kota besar di provinsi tersebut, hanya
sedikit acara kebudayaan yang diselenggarakan di kota ini karena
kotanya yang kecil.
Dengan bantuan dari para praktisi dari
Center Busan dan Daegu, para inisiat Yeongcheon secara hati-hati
mempersiapkan acara tersebut dengan memasang poster-poster di
sekeliling kota. Poster-poster tersebut banyak menarik perhatian
penduduk setempat, termasuk seorang pegawai dari kantor polisi di dekat
tempat seminar. Lelaki tersebut adalah seorang ahli fisiognomi timur,
suatu seni membaca sifat dan keberuntungan seseorang berdasarkan wajah.
Ia memperlihatkan minat yang tulus terhadap Guru dan Metode Quan Yin.
Ia berkata, “Maha Guru Ching Hai memiliki wajah yang agung.” Karena
pegawai tersebut harus bertugas pada hari seminar, ia mengambil sebuah
buku contoh dan beberapa jilid majalah Berita tentang Guru. Meskipun
demikian, ia merasa tidak puas dengan hanya mengambil buku dan majalah
tersebut, dengan ramah ia menambahkan, “Jika dibutuhkan, saya ingin
menawarkan bantuan saya untuk Guru dan Asosiasi-Nya.”
Persiapan lain untuk seminar tersebut
berjalan lancar. Meskipun pada hari seminar diramalkan bahwa udara akan
sangat dingin, akan tetapi cuaca hari itu ternyata sejuk dan nyaman. Di
bawah sinar matahari yang hangat, saudara dan saudari sepelatihan
menghias aula ceramah dan pintu masuk dengan balon berwarna-warni untuk
menyambut para pengunjung. Mereka juga memajang Lampu Panjang Umur dan
lukisan-lukisan Guru di sebuah ruang pameran di samping aula supaya
para peserta dapat menikmati karya seni Guru yang indah sewaktu acara
seminar video. Di antara para pengunjung, ada beberapa fotografer yang
cukup lama memandang karya Guru dan bercakap-cakap dengan para inisiat
sambil mengungkapkan minat mereka atas karya seni tersebut. Mereka
sangat takjub bahwasanya seorang Guru rohani dapat sedemikian aktif di
bidang seni.
Pada hari seminar, lebih dari enam puluh
orang datang ke aula ceramah, jumlah yang berarti mengingat kecilnya
jumlah penduduk di Yeongcheon. Hadirin dengan penuh perhatian menonton
ceramah Guru tahun 2000 di Seoul yang berjudul Kehidupan Berlanjut Selamanya.
Setelah itu, enam belas pengunjung mempelajari meditasi Metode
Kemudahan dan beberapa orang mendaftarkan diri untuk inisiasi Metode
Quan Yin.
Baik selama berlangsungnya ataupun setelah
seminar video di Yeongcheon tersebut, para inisiat yang ikut serta
merasa benar-benar bahagia berbagi berita baik dari pesan Guru dan
menaburkan benih pertalian Surgawi dengan sesama mereka. Mereka juga
berharap supaya mereka dapat terus menyebarkan Kebenaran sehingga lebih
banyak saudara dan saudari mereka yang dapat melampaui dunia materi
yang menyesatkan ini serta menemukan kekuatan batin tertinggi dan
menikmati kebahagiaan Zaman Keemasan. ♥

Satu Dunia—Festival Vegetarian
Penuh Kasih
Oleh Grup Berita Gwangju (Asal dalam bahasa Korea)
Pertunjukan pansori Korea
|
Para tamu undangan dari berbagai latar belakang menikmati
makan siang bersama.
|
[Gwangju] Pada tanggal 11 Desember
2005, para inisiat setempat merayakan ulang tahun kesepuluh Center
Gwangju di Restoran Vegetarian Cheongsol yang bergaya prasmanan di kota
mereka. Untuk mempererat persatuan antar saudara dan saudari
sepelatihan, maka kegiatan tersebut dinamakan “Satu Dunia—Festival
Vegetarian Penuh Kasih”. Sebelum acara berlangsung, para praktisi
membuat kartu undangan indah yang berwarna emas dan mengirimkannya ke
para inisiat di seluruh Korea, dan juga para praktisi Metode Kemudahan
serta orang-orang yang telah menerima bantuan kemanusiaan dari Center
seperti Wisma Kebangkitan Naju, Wisma Milal, Wisma Persekutuan
Nazareth, dan para pekerja Sri Lanka yang tinggal di Korea, yang telah
belajar mengenal para inisiat selama kegiatan bantuan Center untuk
bencana Tsunami di negara mereka.
Sebagai tambahan, para praktisi mengundang
keluarga dan teman-teman mereka, termasuk anggota komunitas manula
setempat dan mereka yang kurang beruntung. Kepada mereka yang kurang
beruntung ini, diberikan bantuan berupa kebutuhan harian seperti beras,
kimchi (kol pedas yang diasinkan), dan tikar lantai yang bisa
dipanaskan. Dan melalui kegiatan pemberian bingkisan ini, para inisiat
memperoleh pemahaman yang lebih besar tentang makna sebenarnya di balik
Festival tersebut.
Tamu undangan dari Sri Lanka yang tinggal di Korea bernyanyi pada
Festival tersebut.
|
 |
Paduan suara oleh para
penyandang cacat yang telah menerima bantuan dari Center Gwangju selama
bertahun-tahun.
|
Pada hari berlangsungnya acara, restoran
tersebut dihiasi dengan balon dan spanduk selamat datang serta
pertunjukan musik untuk menyambut para pengunjung. Dalam waktu singkat,
tempat acara sudah dipenuhi oleh lebih dari 200 orang. Mereka sangat
menyukai sederetan makanan vegetarian yang dipersiapkan oleh para
inisiat. Acara perjamuan ini dilanjutkan dengan pertunjukan musik dan
pansori (opera drama khas Korea). Lalu para inisiat mempertunjukkan
bermacam-macam tarian adat dan pembacaan puisi dengan diiringi musik
instrumental, yang merupakan pertunjukan yang paling mengesankan yang
dibawakan oleh seorang saudara-inisiat, seorang pemain okarina
profesional. Selama pertunjukan tersebut, juga diputarkan video khusus
yang bertajuk “Damai dengan Vegetarisme”.
Setelah acara pertunjukan dari rekan-rekan
inisiat selesai, para tamu diberi kesempatan untuk mempertunjukkan
bakat mereka. Di antaranya terdapat sekelompok pengunjung yang
terbelakang mentalnya yang menyanyikan sebuah lagu. Para penonton
begitu tersentuh dengan sikap mereka yang polos sehingga kelompok
penyanyi tersebut memperoleh tepukan yang paling meriah pada hari itu.
Lalu para tamu mendengarkan penjelasan
singkat mengenai tema Festival tersebut dan menonton video Melangkah di Jalan Kasih (Walk the Way of
Love), yang memperkenalkan kepada mereka tentang karya dan
kehidupan Guru. Selanjutnya, seorang inisiat memberi penjelasan tentang
Metode Quan Yin dan Asosiasi Internasional Maha Guru Ching Hai. Para
tamu diberitahukan tentang manfaat vegetarisme dan cara-cara memasak
makanan vegetarian.
Secara keseluruhan, para tamu mengatakan
bahwa acara tersebut benar-benar mengangkat rohani. Mereka semua sangat
berterima kasih karena bisa mendapatkan pengalaman yang demikian
membahagiakan. Seorang penata acara yang mendekorasi balon secara
profesional untuk Festival tersebut berkata, “Saya telah mengunjungi
banyak acara tetapi yang satu ini benar-benar khusus. Ini pertama
kalinya saya melihat suatu acara di mana para Biksu, biarawati Katolik,
pendeta Kristen, kumpulan anak-anak, orang-orang tua, orang-orang
cacat, dan pekerja asing berkumpul bersama dan bersukaria.”
Begitu acara Festival selesai, para
pengunjung remaja dari panti sosial menerima bingkisan berupa tas
sekolah yang cantik untuk tahun ajaran yang akan datang. Ini merupakan
bonus tambahan selain makanan dan kegembiaraan dalam pesta.
Sebagai kesimpulan, para inisiat Gwangju
melewati masa yang sangat berarti saat berbagi kebahagiaan dan kasih
dengan orang-orang yang kurang beruntung di acara Satu Dunia – Festival
Vegetarian Penuh Kasih. Dan seluruh tamu yang hadir tampaknya juga
sangat menikmati hari yang menggembirakan tersebut. Para saudara dan
saudari sepelatihan mengucapkan syukur kepada Guru karena mereka terus
bertumbuh di dalam cinta kasih-Nya yang nirbatas dan berjanji untuk
terus membagi berkah-Nya dengan orang lain. Melakukan “kasih dalam
tindakan” yang tanpa syarat seperti itu berasal dari teladan Guru yang
cemerlang selama sepuluh tahun yang telah lewat. ♥
|