Mutiara dari Web

Dua Sahabat dan Doa Mereka

“Kita harus berpikiran terbuka dalam pencarian rohani kita, melakukannya demi dunia daripada demi diri sendiri, keluarga, atau bahkan hanya demi lima generasi keluarga kita.”

~Maha Guru Ching Hai

Pengarang: tidak diketahui (Asal dalam bahasa Inggris)

Sebuah kapal yang sedang berlayar hancur oleh badai di laut dan hanya ada dua orang yang ada di atas kapal yang bisa berenang ke sebuah pulau kecil yang mirip gurun. Tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat, kedua orang yang selamat setuju bahwa mereka tidak memiliki jalan lain selain berdoa kepada Tuhan.

Akan tetapi, untuk mengetahui doa siapa yang lebih ampuh, mereka setuju membagi wilayah di antara mereka dan tinggal saling berseberangan di pulau tersebut.

Hal pertama yang mereka mohonkan adalah makanan. Keesokan paginya, lelaki pertama melihat sebuah pohon buah di wilayahnya, sehingga dia bisa memakan buahnya. Tetapi, bagian tanah lelaki yang lain tetap tandus.

Setelah seminggu, lelaki pertama menjadi kesepian dan memutuskan untuk memohon seorang istri. Hari berikutnya, sebuah kapal yang lain rusak dan satu-satunya yang selamat adalah seorang wanita yang berenang ke wilayahnya. Tetapi, di sisi lain dari pulau tersebut tidak ada apa-apa.

Segera setelah itu, lelaki pertama memohon sebuah rumah, baju, dan makanan yang lebih banyak. Hari berikutnya, seperti sulap, semua benda ini diberikan kepadanya. Akan tetapi, lelaki kedua tetap tidak mempunyai apa-apa.

Akhirnya, lelaki pertama memohon sebuah kapal agar dia dan istrinya bisa meninggalkan pulau tersebut, dan pada pagi harinya dia mendapatkan sebuah kapal bersandar di wilayahnya.

Lelaki pertama menaiki kapal tersebut dengan istrinya dan memutuskan untuk meninggalkan lelaki kedua di pulau tersebut, dengan pertimbangan lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkah Tuhan, karena tidak ada satu pun permohonannya yang dikabulkan.

Ketika kapal hampir berangkat, lelaki pertama mendengar suara dari Surga berbunyi dengan keras, “Mengapa engkau meninggalkan rekanmu di pulau tersebut?”

“Berkah saya adalah milik saya sendiri karena sayalah yang berdoa untuk hal itu,” jawab lelaki pertama, “Semua permohonan dia tidak dikabulkan, jadi dia tidak layak mendapatkan sesuatu.”

“Engkau salah!” suara tersebut memarahinya. “Dia hanya mempunyai satu permohonan, yang aku kabulkan. Jika bukan karena itu, engkau tidak akan menerima satu pun karunia dariku.”

“Beri tahu saya,” lelaki pertama bertanya pada suara tersebut, “Apa yang dia mohonkan sehingga saya harus berhutang sesuatu kepadanya?”

“Dia memohon agar semua doamu dikabulkan.”

Ketahuilah, berkah yang kita terima bukanlah hasil dari doa kita semata-mata, tetapi juga dari orang lain yang mendoakan kita. Jadi, apa yang Anda perbuat bagi orang lain lebih penting dari pada apa yang Anda perbuat untuk diri Anda sendiri.