Oleh David Smugar, San Francisco, Amerika
Serikat
(Asal dalam bahasa Inggris) Kehidupan saya sebelum bertemu Guru adalah seperti terperangkap dalam pasang surut samudra yang tak henti-hentinya. Ombak datang dan saya menggelepar dan terperangkap di tengah gelombang tanpa dapat menemukan daratan. Ketika ombak surut, saya mencoba untuk kembali ke daratan, tetapi kabut menggulung dan merintangi usaha saya untuk mencapai daratan kering. Kemudian Guru datang. Dia tersenyum cerah dan melengkapi saya dengan sebuah kapal kecil yang saya gunakan sebagai perlindungan dari lautan yang ganas. Ombak tetap di sana, seperti juga riak pasang surut, tetapi saya tidak perlu berjuang begitu keras. Kapal ini memberikan saya kesempatan untuk memulihkan kembali kekuatan saya dan mengambil pandangan lain ke lautan yang menantang. Karena saya dapat sedikit santai saat menggunakan kapal pemberian Tuhan, saya perhatikan bahwa walaupun ombaknya keras, mereka jarang menghantam kapal saya dan tidak dapat menggoyahkan kapal saya. Semakin saya menjadi terbiasa dengan kapal kecil ini, semakin banyak kabut yang terangkat. Dan semakin banyak kabut yang terangkat, maka kemarahan lautan menjadi semakin dapat dikendalikan. Saya mengerti bahwa lautan akan selalu berperilaku dengan cara yang dimilikinya: suatu ketika keras, suatu ketika lunak, suatu ketika berkabut, selalu tak dapat diramalkan. Sekali saya belajar untuk menghargai kapal laut yang baru, saya tidak meminta apa pun lagi dari Guru yang cantik, karena saya merasa puas hati. Walaupun demikian Guru terus membantu saya dengan senyum-Nya yang cemerlang. Kecemerlangannya berkilau bagaikan sinar mercusuar yang kuat di tengah malam yang paling gelap. Senyum-Nya yang akrab pada akhirnya membimbing saya kembali ke pinggir pantai. Segera ketika saya menyadari bahwa saya sudah berhasil mencapai daratan kering, Guru tiba-tiba menghilang dengan misterius seperti ketika Dia datang, bagaikan gulungan kabut. Sejenak saya merasa sendiri. Kemudian saya perhatikan bahwa sepanjang pantai ada ribuan individu, semuanya berbeda warna dan penampilan, tetapi semuanya mempunyai senyum yang cerah mirip seperti senyuman Guru yang cantik. Mereka mempersiapkan sebuah pesta untuk saya dan memperkenalkan diri mereka sebagai keluarga "baru" saya dari masa lampau. Mereka telah dibawa ke pantai oleh Guru yang sama. Masing-masing dari kami berbagi cerita tentang bagaimana seorang Makhluk cantik dengan senyumnya yang cemerlang telah datang untuk menunjukkan jalan menuju pantai. Mereka memberitahukan saya bahwa hanya dengan bersama - bahkan dalam keheningan - kita dapat mandi dalam Cahaya kehadiran Guru kapan pun. Kami makan dan tertawa bersama, bermain dengan binatang di sana yang telah datang untuk bersahabat dengan kami dan berterima kasih kepada kami. Saudara dan saudari saya menjelaskan bahwa para binatang mengetahui bahwa kita menghormati mereka dengan derajat yang sama, dan bahwa mereka juga merupakan bagian dari keluarga baru saya. Terima Kasih Guru atas segalanya.
|
|||||||