Perkembangan Positif di Planet Bumi
|
||||||||||||||||
![]() |
Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf |
Pada tanggal 5 Mei Tahun Emas 3 (2006), seorang pemimpin utama pemberontakan Sudan menandatangani persetujuan damai dengan pemerintah Sudan. Peristiwa ini menandai berakhirnya perang 3 tahun di wilayah Darfur, Sudan.
Darfur, sebuah wilayah yang luasnya kira-kira sama dengan Prancis, mengalami perang saudara pada awal tahun 2003. Pertikaian tersebut paling sedikit telah merenggut nyawa dari 180.000 orang dan menyebabkan 2,4 juta orang kehilangan tempat tinggal.
Suatu periode perundingan intensif mengawali penandatanganan persetujuan damai tersebut, dan banyak tenggang waktu yang telah berlalu. Kenyataannya, hingga saat upacara penandatanganan pada tanggal 5 Mei, tidaklah diketahui apakah pemimpin pemberontak akan menandatangani persetujuan. Sementara itu, dikhawatirkan bahwa peperangan itu dapat meluas menjadi perang saudara di negara tetangga Chad dan memicu kelompok separatis Timur Tengah. Hanya seminggu setelah mendapat tekanan intensif dari diplomat Afrika, Amerika, dan Eropa, barulah pemimpin pemberontak itu setuju untuk menandatangani persetujuan perdamaian.
Persetujuan ini juga menandai titik balik yang berarti dalam sejarah Afrika Timur, sebagai daerah asal mula perang di Darfur yang dimulai sejak abad ke-13 saat suku pengembara yang beternak sapi, kambing, dan domba, berpindah ke daerah yang telah dihuni oleh para petani. Sejak saat itu, terjadilah pertikaian yang berkelanjutan antara suku-suku dan petani setempat. Saat ini, akhirnya muncul harapan yang nyata bagi pemimpin pemberontak untuk berintegrasi dengan pemerintah Sudan dan untuk membangun Darfur kembali, yang dimulai dengan bantuan dari masyarakat internasional.
Persetujuan damai serupa ditandatangani pula pada bulan Mei Tahun Emas 2 (2005), di Burundi dan mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung lama di negara itu. Perjanjian Burundi maupun Sudan dapat dicapai karena keterlibatan Uni Afrika (AU), yang didirikan pada tahun 2002 mengikuti pembentukan Uni Eropa (UE). Pada akhirnya, Uni Afrika berharap untuk membentuk mata uang bersama Afrika, angkatan bersenjata, dan institusi-institusi lain untuk menjaga perdamaian di seluruh Afrika.
Pada bulan November 2005, terjadi peristiwa yang benar-benar mengagumkan di Liberia, di mana Ellen Johnson-Sirleaf terpilih menjadi presiden wanita pertama di Afrika. Hasil pemilihan tersebut bahkan lebih luar biasa lagi karena Liberia baru saja terlepas dari kediktatoran dan perang saudara. Johnson-Sirleaf, mantan pejabat PBB dan Bank Dunia yang sangat dihormati oleh masyarakat internasional, mengalahkan calon presiden pria yang ternama dalam sebuah pemilihan di mana banyak rakyat Liberia yang berdiri sepanjang hari di bawah terik matahari untuk memberikan suaranya. Hal penting selanjutnya adalah fakta dari proses pemilihan itu sendiri yang berlangsung dengan damai dan tanpa kekerasan ataupun korupsi yang telah menjadi ciri khas pemilihan umum di Liberia di masa lalu. Karena itu, pemilihan umum ini dielukan sebagai sebuah tanda kemajuan politik yang sesungguhnya di Afrika.
EropaSetelah konflik berabad-abad mencapai puncaknya dalam dua Perang Dunia, Eropa saat ini menikmati periode damai dan telah membentuk institusi-institusi untuk membantu memastikan terciptanya perdamaian yang permanen untuk generasi mendatang. Salah satu badan tersebut adalah Uni Eropa (UE), yang semula adalah suatu aliansi perdagangan pada tahun 1950-an dan berubah menjadi kesatuan dari bangsa-bangsa yang terpisah, tetapi saling bergantung. Negara-negara ini mempunyai cita-cita yang sama, dan membuka perbatasan. Uni Eropa adalah pendukung dan penyandang dana utama PBB. UE menyumbang hampir setengah dari anggaran belanja PBB.
Uni Eropa telah memberikan inspirasi, bukan saja sebagai organisasi percontohan bagi kelompok lainnya seperti Uni Afrika, tapi juga berfungsi untuk mendorong banyak negara lain untuk beralih menuju perdamaian. Sebagai contoh, pada awal tahun 1970-an, Yunani, Portugal, dan Spanyol semuanya diperintah oleh diktator militer, tetapi mereka semua berubah menjadi negara demokrasi yang damai agar bisa bergabung dengan Uni Eropa. Hal yang sama terjadi pula di Turki, yang telah menghapus hukuman mati, memperbaiki hak-hak asasi manusia, dan mulai mereformasi pemerintahannya agar mendapatkan hak masuk ke Uni Eropa.
Timur
Tengah
![]() |
Seorang Petugas Polisi India (kanan) menyalami supir bus Pakiskan di perbatasan India-Pakistan |
Pada bulan Desember Tahun Emas 2 (2005), rakyat Irak berpartisipasi dalam pemilihan umum mereka yang pertama. Para pengamat internasional kagum akan tingginya angka pemilih (70%) dan juga karena pemilihan umum itu berlangsung dengan damai dan tertib. Sementara itu, di AS, ahli-ahli politik tertegun saat mengetahui kenyataan bahwa sebagian besar rakyat Amerika sama sekali menentang perang yang terjadi di tahun 2005 yang menelan 1.500 korban tentara Amerika.
Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang telah menjadi lebih sensitif terhadap kekerasan, jauh lebih sensitif daripada di saat konflik sebelumnya seperti saat terjadinya Perang Vietnam. Orang-orang juga telah sadar akan akibat negatif peperangan seperti Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD), yang bahkan tidak pernah dibahas di masa lalu. Para peneliti telah menyimpulkan bahwa orang-orang telah mengembangkan penolakan mendasar terhadap perang.[3] Ada tanda-tanda perdamaian lainnya di seluruh Timur Tengah. Pemberontak Muslim di Yaman dan Aljazair akhir-akhir ini telah menghentikan peperangan yang telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Di Israel, yang merupakan pusat pertikaian regional yang paling rumit di dunia, Perdana Menteri negara itu secara sukarela menarik diri dari Jalur Gaza pada bulan Agustus 2005, sebuah wilayah yang telah diduduki sejak tahun 1967. Ini adalah hal terbaru dalam rangkaian perdamaian terpenting yang telah dibuat oleh Israel kepada Palestina dalam tahun-tahun belakangan ini.
Pada bulan Februari Tahun Emas 3 (2006), para ahli teknik AS terbang ke Libia untuk membantu negara tersebut untuk memusnahkan senjata kimia milik mereka. Libia yang pernah menjadi musuh utama AS mulai melaporkan senjata nuklir, biologi, dan kimia milik mereka pada tahun 2003 dan baru-baru ini mengundang para tenaga ahli asing untuk datang membantu menghancurkan persediaan yang masih tersisa.
Hubungan Pakistan–India, yang nyaris hancur dalam perang tahun 2002, berangsur berubah ke dalam keadaan yang lebih baik. Kedua negara itu memiliki kepala negara yang baru yang memiliki komitmen perdamaian. Sejumlah rute bus dan kereta api yang menyeberangi perbatasan, baru-baru ini telah dibuka pada tanggal 3 Mei 2006. Perdana Menteri India, Manmohan Singh, meresmikan sebuah rute bus baru yang menghubungkan India dan Pakistan. Dia juga menawarkan harapan akan perjanjian damai yang menyeluruh antara kedua negara tersebut.
Asia
Pada tahun 2003, Cina mengumumkan kebijakan “peaceful rise”(bangkit secara damai). Kebijakan itu berisi tentang cara membina hubungan perdamaian dengan negara lain melalui jalur diplomasi dan bukannya melalui jalur berperang. Pemerintah Cina telah menindaklanjuti kebijakan ini dengan mengatasi beberapa perselisihan batas wilayah dan menandatangani banyak perjanjian positif dan persetujuan perdagangan dengan negara-negara lain. Bahkan di saat perekonomian Cina tumbuh pesat, negara ini telah menghindari pertentangan dengan negara lain dengan menekankan kerendahan hati serta rasa hormat terhadap negara lain. Cara pendekatan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan cara pendekatan militer yang lebih agresif di masa lalu. Hasil pendekatan ini menciptakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sebuah negara adidaya yang muncul dengan damai, tanpa pembangunan militer besar-besaran. Kebijakan ”Bangkit Secara Damai” akhirnya telah memengaruhi meningkatnya penilaian terhadap kebijakan asing di seluruh penjuru dunia.
Pada tanggal 3 Mei Tahun Emas 3 (2006), pemerintah Nepal mendeklarasikan sebuah gencatan senjata dan memulai pembicaraan damai dengan pemberontak Maois, yang mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung selama 10 tahun. Di Indonesia, perjanjian damai serupa mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung selama sepuluh tahun yang ditandatangani di Finlandia pada bulan Agustus Tahun Emas 2 (2005).
Pada bulan Juni 2006 mendatang, mantan Presiden Korea Selatan, Kim Dae-jung, akan melawat ke Korea Utara untuk bertemu dengan Presiden Kim Jong-il. Presiden Korea Selatan membuat lawatan bersejarah yang sama pada tahun 2000, yang membuka hubungan antar kedua negara Korea tersebut untuk pertama kalinya dalam setengah abad lalu. Hal ini menyebabkan Kim Dae-jung memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2000. Sejak saat itu, Korea Selatan telah mengikuti “Kebijakan Matahari Bersinar” dengan menawarkan bantuan kepada Korea Utara tanpa berusaha menggulingkan pemerintahan negara tersebut.
Kebijakan politik liberal dari mantan Presiden Kim Dae-jung telah menciptakan banyak tekanan dari pemimpin-pemimpin militer asing, tapi dia telah mendapatkan kepercayaan rakyat dari kedua negara Korea tersebut karena cara pendekatannya yang masuk akal, tulus, dan damai. Salah satu hasil pendekatan tersebut adalah ribuan keluarga telah bisa menyeberangi perbatasan terketat di dunia agar bertemu dengan keluarga mereka untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun. Langkah Kim Dae-jung selanjutnya adalah melakukan perjalanan untuk menghadiri pertemuan bulan Juni dengan kereta api melalui rute yang belum pernah ada sebelumnya. Karena itu, seperti halnya pengurangan pengetatan perbatasan antar negara seperti India dan Pakistan, teluk yang memisahkan Korea Utara dan Selatan secara bertahap telah terhubungkan oleh jembatan kepercayaan.
![]() |
Presiden Korea Utara dan Selatan pada tahun 2000 |
Kim Dae-jung |
![]() |
Kamboja
![]() |
Raja Kamboja |
Salah satu kisah perdamaian paling penting di Asia, terjadi di negara Kamboja. Pada tahun 1970-an, jutaan orang Kamboja tewas selama perang saudara. Setelah pemerintahan negara itu akhirnya jatuh, PBB kemudian mengambil alih pemerintahan dengan mengangkat dua perdana menteri yang saling bersaing, dan seorang raja. Hanya sedikit orang yang yakin bahwa pemerintahan semacam itu akan bisa bertahan, dan pemerintahan tersebut nyatanya hampir tumbang pada tahun 1997, tapi secara ajaib pemerintahan itu tetap berlanjut, saat salah satu perdana menteri mengambil alih kepemimpinan, namun membiarkan perdana menteri yang lainnya tetap berada di dalam pemerintahan, sementara mereka tetap menghormati sang raja.
Keseimbangan yang sukar dipercaya ini memungkinkan periode
damai yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negara tersebut.
Hal ini memungkinkan bertumbuhnya perekonomian dan berkembangnya sektor
pariwisata yang kuat. Sekarang, sebuah generasi dari anak-anak yang tidak
memiliki ingatan akan perang akhirnya muncul. Kamboja telah berubah, dari
suatu negara yang paling mengenaskan menjadi suatu negara yang paling
indah dan damai di atas bumi. Walaupun memiliki masa lalu yang penuh
kekerasan, Kamboja adalah satu dari sedikit negara yang secara total telah
menghapus hukuman mati di dalam Undang Undang Dasar mereka. ![]()
Gagasan akan perang itu sendiri, yang dahulu pernah
secara terus-menerus melandasi umat manusia, kini telah menjadi suatu
gagasan yang ketinggalan zaman. Masyarakat yang dahulu memuliakan para
serdadu dan dengan kemauan sendiri mengirimkan anak-anak muda mereka ke
medan pertempuran sekarang telah meragukan hal itu. Konsep yang sama
sekali baru telah bertumbuh: Uni Internasional, aliansi dan
organisasi-organisasi nonpemerintah (NGO) saat ini mengambil alih
kekaisaran yang sebelumnya telah berperang selama lebih dari ribuan tahun.
Awal perdamaian telah tiba.[4
,
5 ]
Beritahu teman tentang artikel ini |
||