Perkembangan Positif di Planet Bumi
Cahaya
Libia
Kini lebih BERSINAR
dan Terlihat di DUNIA
|
Oleh Grup Berita Florida (Asal dalam
bahasa Inggris)
Libia
Pada tanggal 15 Mei Tahun
Emas 3 (2006), AS mengumumkan bahwa negara itu akan membuka hubungan
diplomatik penuh dengan negara Libia. Kedutaan AS yang baru saat ini
sedang dibangun di Tripoli, ibu kota Libia. Kedua bangsa telah saling
bermusuhan selama lebih dari 25 tahun, sampai saat Libia yang secara
tak disangka-sangka melaporkan senjata nuklir, biologi, dan kimia milik
mereka pada tahun 2003. Pada bulan Februari tahun ini, Libia
bahkan mengizinkan para teknisi AS datang untuk menghapus dan
memusnahkan senjata kimia milik mereka.
Menurut pendapat pemimpin
Libia, Muammar Qadhafi, “Dunia telah berubah secara radikal dan
drastis. Metode dan gagasan lama seharusnya berubah, dan sebagai
seseorang yang revolusioner dan progresif, saya telah mengikuti gerakan
ini.”
Setelah sekian lama dianggap
sebagai rezim paling opresif di dunia, Libia saat ini telah membuat
kemajuan yang cepat dalam mendukung hak asasi manusia, sampai pada
taraf penghapusan hukuman mati. Dalam hal pendidikan, status wanita,
dan penghapusan kemiskinan, saat ini Libia adalah salah satu di antara
bangsa-bangsa yang terkemuka di Afrika. Keterbukaan pikiran yang baru
dari bangsa tersebut untuk melakukan perubahan adalah berkat jasa dari
Sayf, putra Qadhafi, seorang lulusan Sekolah Ekonomi London, yang
telah mengabdikan dirinya untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan
dunia Barat, dan telah berbicara secara terbuka demi demokrasi di
Libia.
Libia saat ini membuka
wilayahnya yang memesona - termasuk 2.000 km (1.243 mil) daerah garis
pantainya yang masih perawan kepada turis asing. Teknologi mutakhir
seperti telepon seluler, sambungan Internet, dan televisi satelit,
telah bisa didapatkan di mana-mana. Sementara itu, Libia tetap
mempertahankan perkembangan musik, tari, seni, dan agama dari
kebudayaan tradisional mereka. Kebanyakan acara televisi setempat
menayangkan musisi tradisional Libia.
Di samping memiliki
persediaan minyak terbesar di Afrika, Libia mungkin memiliki kekayaan
berharga lainnya yang terpendam sedalam 500 meter di bawah gurun Sahara
persediaan air fosil murni yang melimpah dari Zaman Es yang silam.
Air fosil tersebut cukup untuk mengembangkan pertanian di sepanjang
gurun Libia, dan juga untuk menyediakan air minum selama ratusan tahun.
Pemerintah telah memompa air melalui Sungai Buatan, sebuah proyek
multi-tahap yang mulai menyediakan air untuk Tripoli pada tahun 1996.
Sungai tersebut dianggap oleh banyak ahli sebagai proyek teknik
terbesar di dunia. Proyek itu baru akan selesai dalam 25 tahun
mendatang. Namun pada saat Libia kehabisan air fosil, mereka akan dapat
melakukan penyulingan air dari Laut Mediterania, dan negara itu akan
berkembang menjadi salah satu permata berharga di Afrika Utara. 
|
|
|
|
Beritahu teman tentang artikel ini
|
|