Oleh Saudari inisiat Laura Chen
Rivera, di Kosta Rika ( Asal bahasa Spanyol)
Saya dibesarkan sebagi seorang yang beragama Katolik dan saya hanya menginginkan kebahagiaan. Pernah suatu kali saya memimpikan Yesus Kristus. Tubuh-Nya bercahaya terang ketika Ia terbang melintasi langit sambil menatap saya dengan senyum yang indah dan hangat. Di dalam mimpi itu, saya merasa sangat bahagia dan meminta-Nya untuk tetap bersama saya. Saya selalu berpikir mengapa saya bisa merasakan kebahagiaan tapi tidak merasakan kedamaian batin meski sesingkat saja. Hingga akhirnya saya menyaksikan ceramah yang disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai di Kosta Rika yang membuat saya sadar bahwa saya telah terpisah dari sumber berkah yang Yesus Kristus tinggalkan di hati saya. Saya juga memahami bahwa ajaran Guru sama dengan ajaran Yesus di Alkitab. Sejak saya menerima inisiasi dari Guru dan mulai berlatih meditasi Metode Quan Yin, saya merasakan kedamaian batin, kebahagiaan, dan kasih tanpa syarat yang sangat besar sehingga saya mengetahui bahwa saya telah berada di jalur yang benar. Sekitar 10 tahun yang lalu, hidup saya kacau-balau karena kesulitan ekonomi, masalah hukum, dan kehilangan rumah tinggal karena kebakaran, namun saya tetap selalu merasa damai di dalam batin dan yakin kepada Guru. Kata-kata Guru “Dunia ini akan berlalu, karena tidak ada yang abadi! Namun Kebenaranlah yang akan membebaskan Anda” selalu tergiang dalam pikiran saya. Beberapa hari sebelum retret internasional di Korea, rumah saya habis terbakar rata dengan tanah. Semuanya menjadi debu kecuali paspor saya yang disisipi foto Guru di belakangnya. Ini sunguh ajaib karena hanya kedua barang ini saja yang selamat sehingga saya bisa menghadiri retret dan bisa bersama dengan Guru. Setiap kali saya mengikuti pertemuan seperti itu, saya selalu merasa seperti di Surga, dan ketika saya kembali ke rumah, saya memiliki keberanian untuk terus menghadapi tanggung jawab saya di Bumi ini. Pada pagi hari di retret musim panas itu, ada lebih dari 2000 inisiat menyambut Guru ketika Ia lewat dengan mengedarai mobil golf mini, rasanya seperti seorang ibu yang penuh kasih telah datang untuk menemui anak-Nya. Setelah beberapa saat, Guru memalingkan wajah untuk melihat saya dan berkata, “Laura, ke sini!” Saya mengikuti Guru ke ruangan-Nya kemudian kami berbincang-bincang sambil makan buah dan minum teh, lalu saya menyadari bahwa Guru mengetahui tentang kebakaran dan penderitaan yang saya alami. Guru masih seperti biasanya, sangat anggun dan penuh kasih. Ia meminta penjaga-Nya agar membawa saya ke Toko Celestial untuk memilih beberapa baju hangat untuk dipakai dan kemudian Guru memberikan kepada saya sebuah amplop yang berisi uang, saya merasa sangat malu karena saya tahu bahwa uang yang Ia miliki didapat dari hasil kerja keras-Nya sendiri dan biasanya digunakan untuk misi kemanusiaan. Dengan desakan dari Guru, saya akhirnya menerima pemberian dari-Nya itu dengan penuh rasa syukur di dalam hati. Di sore harinya, setelah bermeditasi kelompok, Guru memberitahu semua orang tentang musibah kebakaran itu dan bertanya kepada saya di depan mereka semua, “Berapa banyak uang yang Anda butuhkan untuk membangun rumah Anda kembali?” Sekali lagi saya tersipu malu, dan karena saya tidak tahu banyak tentang berapa besar biaya pembangunannya, maka dengan malu-malu saya memperkirakan sebesar 4 juta Colones (sekitar US$14.000). Tidak lama setelah saya kembali ke Kosta Rika, saya menerima kiriman biaya pemabangunan itu dari Guru. Dan Guru juga mengijikan saya agar bisa tinggal di rumah-Nya di Center setempat. Tiada kata yang bisa mengungkapkan betapa besar rasa syukur saya kepada Guru atas semua berkah-Nya yang indah ini.
Setelah itu saya menjual tanah yang pernah
menjadi rumah saya itu dan memulai usaha kecil-kecilan dengan menjual
“tamale vegan” melalui cabang-cabang toserba terbesar di Kosta Rika. Antara
bulan Desember 2008 dan Februari 2009, kami merancang lagi label kemasan
kami dengan mencantumkan kata “Makanan Penunjang Kehidupan” dan “Jadilah
Vegan, Bertindak Hijau dan Selamatkan Bumi.” Dengan beberapa upaya kecil
saja, kita semua dapat membantu menyebarkan pesan Guru kepada orang-orang di
dunia. Saya selalu merasa bersyukur kepada Guru atas bantuan kasih-Nya
kepada saya dalam melewati saat-saat sulit di kehidupan saya, serta
bimbingan-Nya yang penuh kasih dengan memberikan saya kesempatan untuk
memperbaiki diri saya agar semakin baik di setiap harinya dan menjadi lebih
mulia dalam melayani orang lain melalui kasih dalam tindakan terhadap
seluruh sesama penduduk Bumi.
| |||||||||||||