Guru Bercerita
Di zaman Cina kuno, ada seorang jenderal yang sedang sekarat dan raja bertanya kepadanya, “Setelah kematianmu, siapa yang layak menjadi penggantimu?” Jenderal itu kemudian menunjuk orang lain, dan bukan menunjuk putranya sendiri. Karena heran, sang raja bertanya, “Putramu telah mempelajari buku-buku militer sejak kecil. Analisa strateginya juga sangat meyakinkan. Bukankah dia calon yang paling cocok?” “Jangan! Jangan! Putra saya itu hanya bisa omong besar,” kata si jenderal. “Meskipun dia sangat mendalami teori-teori militer, dia sama sekali tidak mempunyai pengalaman praktik di medan perang. Inilah sebabnya saya tidak menyarankan dia.” Bagaimanapun juga, ketika jenderal itu mati, raja tidak mengikuti nasihatnya. Dia amat yakin bahwa putra jenderal itu sangat istimewa, sigap dan paham benar dengan strategi penyebaran prajurit, maka sang raja kemudian menunjuknya sebagai jenderal. Sebagai hasilnya, putra jenderal itu terus menuai kekalahan demi kekalahan, tidak seperti ayahnya yang tak terkalahkan. Ini karena dia tidak memiliki pengalaman praktik dalam peperangan, dan tergantung sepenuhnya pada buku-buku militer sebagai sumber pengetahuannya.
Hal
serupa terjadi pada semua hal yang kita lakukan. Semakin banyak kita
melakukannya, semakin alami kita jadinya, dan hal ini lambat laun akan
berkembang menjadi sebuah kebiasaan.
|