Liputan Media

Sukarelawan Tibet untuk Binatang (TVA),
30 Desember 2006 (Asal dalam bahasa Inggris)

 

TVA Menyebarkan Vegetarisme

ke Tempat Lahirnya Buddhisme

 
♥♥♥♥♥

 

                                                               Oleh Caroline Martin

Telah menjadi acara tahunan Dharma Woodstock: Kaum Buddhis dari berbagai negara dan sekte berkumpul kembali untuk merayakan festival Kagyu Monlam Chenmo di Mahabodhi Mahavira di Bodhgaya, tempat pencapaian pencerahan Buddha. Festival dipimpin oleh Paduka Yang Mulia Karmapa Ogyen Trinley Dorje ke-17. Monlam adalah festival 8 hari bagi para penyembah Buddhi dan pendalaman Ajaran Buddha yang berlangsung dalam suasana hening di bawah naungan rindangnya pohon Bodhi dan kuil agung. Para umat bermeditasi, do kora, serta bersujud sambil diiringi oleh kidung-kidung suci dari para biarawan di dekat tempat suci Vajrasana.

Pameran foto dari para Sukarelawan Tibet untuk binatang mengeluarkan suara yang mengelegar, “akan tetapi menjadi tanda panggilan yang sangat penting ” untuk mengingatkan keberadaan pameran yang tidak jauh dari pintu masuk tempat yang damai ini. Biarawan dari berbagai negara Buddhis dengan jubahnya yang berwarna-warni, orang-orang Tibet dengan pakaian tradisionalnya yang indah, praktisi rohani dari negara-negara Barat, serta wisatawan setempat dari India berkerumun di sekitar foto. Mereka sangat terkejut dan tidak dapat mempercayai foto-foto yang memperlihatkan hal-hal yang sebenarnya terjadi di balik kebiasaan makan daging dan penderitaan binatang di rumah-rumah penyembelihan di India Keheranannya dinyatakan dengan berbagai ekspresi seperti menutup mulut dengan tangan, jari-jemari yang gemetaran, serta mulut yang terbuka.

Tibetan Volunteers for Animals (TVA),
December 30, 2006
(Originally in English)

Jigme, seorang sukarelawan TVA menulis peristiwa tentang sekelompok orang Tibet yang baru datang di majalah TVA Semchen yang berbahasa Tibet dan Inggris. Seperti mereka langsung mengeluarkan lidah dan menggelengkan kepala karena sangat bertentangan dengan diet yang mereka jalankan. Serta para pengunjung yang berkerumun di sekitar meja yang membaca persoalan mengenai pentingnya mengikuti Ajaran Buddha dengan pola hidup tanpa daging dengan teliti.

Pada akhir acara di hari pertama, TVA berhasil membagi-bagikan ceramah dari Kyabje Chatrel Rinpoche (93 tahun) mengenai vegetarisme dalam bentuk CD audio dan video sebanyak 300 keping. Demikian juga dokumentasi mengenai Cinta Kasih dan Kemurahan Hati, yang menampilkan adegan penyembelihan binatang di India. Ada sekitar 200 majalah yang terjual dan sekitar Rs. 4.000 sumbangan uang tunai yang terkumpul. Para Sukarelawan juga diwawancarai dan diambil fotonya oleh media massa setempat, termasuk Aaj Newspaper dari Patna dan stasiun TV Sahara Samaya.

Menjadi bebas daging telah mengubah banyak kehidupan, termasuk para sukarelawan TVA yang berkeliling. Sonam Palyang (17 tahun) memilih menggunakan waktu liburan sekolahnya selama 2 bulan untuk mengikuti TVA. “Semenjak kecil, saya sangat prihatin dan peduli dengan binatang. Setelah paham dan mengerti tentang Cinta Kasih serta Kemurahan Hati, saya tidak sanggup lagi mengkonsumsi daging. Saya telah menjadi vegetarian selama lebih dari 3 tahun,” katanya. Dengan menjadi sukarelawan, Sonan memperoleh pengalaman yang cukup untuk mempromosikan vegetarisme di sekolahnya di Himachal Pradesh, tempat dia menjadi anggota TVA yang aktif.

Lobsang Chodon juga menghabiskan masa cutinya sebagai sukarelawan di Bodhgaya dengan TVA. Keluarganya menentang sikapnya dan mendesak agar dia tetap mengkonsumsi daging demi kesehatannya. “Tetapi saya menolaknya. Di dalam hidup ini, kita mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk mengikuti Buddhisme, jadi kita seharusnya menggunakan hidup kita ini untuk mengerjakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan orang lain.,” ucapnya.

Kaum Buddhis dari berbagai daerah di Himalaya menyambut baik seruan TVA untuk menghentikan penyembelihan. Nepal adalah negara asal Surendra, suatu negara yang rakyatnya menjadikan kurban binatang sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Tetapi setelah memperhatikan peragaan TVA, dia menjadi yakin akan kebenaran seruan TVA untuk menghentikan penyembelihan. Saat makan siang dia berkata, “Ini adalah untuk yang pertama kalinya saya memesan sup mie. Sebelumnya saya selalu memesan sup ayam atau kulit.” Dan beberapa hari kemudian, yaitu pada minggu pertama setelah menjalani hidup tanpa daging, orang yang berumur 29 tahun itu berkata dengan penuh keyakinan, “Saya bahkan tidak pernah berpikir lagi tentang daging. Sekarang tubuh saya terasa lebih ringan dan pikiran saya menjadi lebih jernih.”

Nikesh, seorang Hindu asli asal Bodhgaya (28 tahun) yang pemalu sangat setuju dengan pendapat tersebut. “Saya telah berhenti mengkonsumsi daging,” katanya, sambil membeli sebuah majalah Semchen. “Jika mengkonsumsi makanan non-vegetarian, pikiran saya menjadi kacau. Saya merasa lebih damai setelah menjadi vegetarian. Jika Anda menghentikan pembunuhan, akan menjadi berita baik bagi binatang. Jika Anda mengkonsumsi non-veg, Anda tidak akan memperoleh kedamaian! Kebajikan yang ada dalam diri Anda akan hilang,” ucapnya. Karena contoh yang telah diberikannya, seluruh anggota keluarga Nikesh kini telah menjadi vegetarian. Nikesh juga berkata, “Memang beberapa dari teman-teman saya masih mengkonsumsi non-veg, tetapi saya menyarankan mereka untuk segera menghentikannya. Dengan cara ini, kita dapat mengubah masyarakat dan dunia sekaligus.”

Lohitaksha dan ZhangZan adalah umat Buddhis yang berasal dari Beijing di Daratan China. Di sana, segala macam jenis daging, baik daging anjing, monyet, dan serangga semuanya menjadi menu santapan sehari-hari. Tetapi Lohitaksha telah menjadi vegetarian selama 12 tahun. “Di China sangat sulit menjadi vegetarian, kita harus saling membantu. Oleh sebab itu ZhangZan membuka restoran Vegetarian di Beijing!” katanya. ZangZan menambahkan, “Ajaran Buddha yang sedang saya pelajari memberikan inspirasi untuk membuka restoran, dan saya sudah tidak makan daging selama 4 tahun. Di Beijing dan Shanghai, vegetarisme semakin hari semakin populer.”

Dean, seorang Buddhis dari Amerika yang berusia 45 tahun ikut mendukung program TVA. “Guru saya, Geshe Zopa, mengatakan bahwa cara tercepat untuk mendapatkan karma positif dalam kehidupan ini adalah dengan membiarkan binatang hidup bebas. Segala tindakan setelah menjadi vegetarian seperti menghentikan penangkapan burung dan ikan akan mendapatkan pahala yang luar biasa, melebihi dari tindakan lainnya,” ucapnya.

Setelah lima hari mempromosikan kehidupan tanpa kekejaman kepada kaum Buddhis dari berbagai negara, sudah waktunya bagi sukarelawan TVA untuk mengakhiri dan berpindah ke tempat lain. Persinggahan berikutnya adalah: Karnataka dan tempat pembelajaran ajaran HH Dalai Lama di Hunsur. “Banyak orang-orang Tibet yang berbicara tentang Buddhisme,” kata pendiri TVA Rapsel Tsariwa, “tetapi mereka lebih banyak berbicara daripada bertindak. Kalau betul-betul ingin mendalami Ajaran Buddha, kita harus menghentikan segala macam jenis pembunuhan.” Orang-orang Tibet yang masih mengkonsumsi daging, banyak yang setuju dengan pendapat tersebut dan bahkan kini jumlahnya cendrung semakin meningkat.

(Caroline Martin adalah seorang penulis dan fotografer di Kathmandu, Nepal. Silahkan menghubunginya di
 www.sirensongs.blogspot.com )

Sumber:
http://www.phayul.com/news/article.aspx?article=
TVA+Brings+Vegetarianism+to+Buddhism’s+Birthplace&id=15194