Berbagi Kasih ke Luar Negeri
|
Untuk
berbagi pesan kasih Guru dengan masyarakat luas, rekan-rekan
sepelatihan dari Formosa telah mendistribusikan pamflet ke seluruh
pulau di negara mereka, dan pada bulan Januari hingga Februari 2006,
mereka telah menyebarkan pesan Guru ke negara-negara yang tidak
memiliki Center Quan Yin seperti Bangladesh, Mesir, Fiji, Guam, dan
Kamboja. Kegiatan dari para inisiat tersebut mendapatkan tanggapan,
pujian, dan bantuan yang positif dari penduduk setempat. |
Bangladesh
terletak di bagian Timur Laut India dan merupakan salah satu negara
dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di dunia. Karena negara
tersebut bukanlah suatu negara tujuan wisata yang populer, maka atas
saran dari agen perjalanan mereka, para inisiat meminta pertolongan
Bapak Bian, seorang pengusaha dari Formosa yang tinggal di negara itu.
Bapak Bian mengatur penginapan untuk para inisiat dan pada tanggal 27
Januari dia menjemput para inisiat di Lapangan Udara Zia di Dhaka,
ibukota negara tersebut. Pada pagi hari berikutnya, karena dibatasi
oleh waktu dan pengangkutan, dengan cepat para inisiat merencanakan
untuk hanya mengedarkan pamflet-pamflet tersebut di kota Dhaka yang
berpopulasi tiga puluh juta orang, dan di kota pelabuhan Chittagong,
kota terbesar kedua di Bangladesh.
Tempat perhentian pertama dari para inisiat adalah Universitas Dhaka. Mereka memecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari dua pekerja medis yang secara kebetulan memilih fakultas kedokteran di unversitas tersebut sebagai tempat tujuan pertama mereka. Saat anggota tim pekerja tersebut melihat para calon perawat dan teknisi medis membaca dengan teliti selebaran Guru, mereka menyadari akan besarnya pengaruh selebaran tersebut dalam mengubah pola makan seseorang. Saat mereka meneruskan perjalanan mereka ke fakultas-fakultas lainnya, para inisiat bertemu dengan beberapa dosen dan pengacara hukum. Mereka sangat terkejut saat mengetahui bahwa para saudara dan saudari inisiat telah menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk membagikan pesan kasih dan kesehatan. Mereka pun dengan sangat ramah memberikan kartu nama mereka lalu berkata, “Dengan senang hati kami akan membagikan selebaran-selebaran ini kepada sahabat-sahabat kami.”
Turis sangatlah langka di Bangladesh, karena itu para inisiat menarik perhatian besar. Banyak dari penduduk setempat yang bertanya dengan penuh rasa ingin tahu tentang negara asal mereka dan isi selebaran. Juga, karena mengetahui bahwa maksud dari para praktisi adalah murni dan penuh kasih, maka penduduk setempat merasa sangat tersentuh oleh usaha mereka. Beberapa penduduk setempat dengan ramahnya menjabat tangan para praktisi dan menaruh tangan di dada mereka untuk menyampaikan pesan “Tuhan memberkati kalian.” Selain itu, untuk menunjukkan dukungan mereka yang penuh kasih terhadap ide Guru, beberapa murid sekolah dengan sukarela membantu penyebaran selebaran tersebut dan menjelaskan isinya serta memberikan alamat email mereka dengan harapan akan menerima informasi yang lebih banyak tentang Guru dan Asosiasi-Nya. Kelompok inisiat yang kedua pergi ke pasar yang penuh dengan orang. Setelah mereka mendengar penjelasan seorang saudari-inisiat tentang isi selebaran tersebut, seorang wanita tua merangkulnya dengan penuh perasaan dan berkata, “Anda sangat menakjubkan! Anda telah membawa pesan yang sangat berharga untuk kami!” Beberapa orang yang lain kelihatannya tidak mengerti mengapa babi yang ada dalam selebaran tersebut berkata “Saya mencintaimu!” Dan saat para inisiat menjelaskan bahwa itu adalah tanggapan yang penuh rasa terima kasih kepada umat manusia karena tidak menaruh dagingnya ke atas meja makan, maka penjelasan ini membuat para penanya tertawa terbahak-bahak.
Pada
hari ketiga, para murid membagikan selebaran di pusat kota Dhaka di
mana kerumunan besar orang berlalu lalang di sekitar stasiun bus dan
pusat-pusat perbelanjaan. Karena itu, 10.000 selebaran terdistribusikan
hanya dalam beberapa jam saja. Bahkan para polisi juga membaca
selebaran tersebut dengan penuh minat, dan sekelompok anak-anak dengan
sepenuh hati menunjukkan jalan bagi para inisiat untuk mendistribusikan
selebaran. Mereka dengan penuh semangat memberitahukan para inisiat
jika ada orang yang lewat dan belum menerima selebaran tersebut. Sangat
sering, dari jarak yang jauh, para pejalan kaki di seberang jalan akan
berusaha menyeberangi jalan yang ramai atau datang ke tim pekerja untuk
mendapatkan selebaran. Dengan pengalaman ini, seorang saudara-inisiat
berkata, “Saya sepertinya pernah mengalami hal ini dalam mimpi,” dan
seorang saudari inisiat muda mengungkapkan perasaan yang serupa.
Kelihatannya, perjalanan itu terbukti telah diatur oleh Tuhan sejak
lama!
Setelah bekerja di Dhaka, para praktisi melanjutkan perjalanan ke Chittagong, di mana area pantai tersebut sangatlah padat dengan orang sehingga selebaran-selebaran itu amat cepat terbagi habis, dan memberikan suatu pemandangan yang amat mengesankan. Kemudian, saat tim tersebut pergi ke Universitas Chittagong, beberapa mahasiswa menuntun mereka ke gedung administrasi sekolah untuk mendistribusikan selebaran, dan mereka disuguhi teh susu di kantor rektor. Waktunya sangat tepat karena saat itu kerumunan mahasiswa dalam jumlah yang besar hendak memasuki universitas dan selebaran tersebut kembali tersebarkan dengan cepat.
Di Bangladesh tim pekerja melakukan survei terhadap pembaca surat kabar dan menemukan bahwa penduduk kelas atas dan menengah kebanyakan berlangganan harian yang berbahasa Inggris, sedangkan penduduk kelas menengah ke bawah yang merupakan bagian terbesar dari populasi penduduk membaca surat kabar dalam bahasa Bengali, akan tetapi hanya sedikit saja yang mampu berlangganan surat kabar tersebut. Karenanya, para inisiat memutuskan untuk memasang iklan pada halaman depan surat kabar Inggris, dan juga mencetak ribuan salinan kopi selebaran tersebut ke dalam bahasa Bengali untuk didistribusikan oleh Bapak Bian dan sahabat-sahabatnya kepada penduduk kelas menengah ke bawah di seluruh negeri tersebut.
Sebagai kesimpulan, perjalanan ke
Bangladesh itu penuh dengan kejutan-kejutan. Semua peserta merasakan
berkah dan kepedulian Guru serta menyadari bahwa mereka hanyalah alat
yang dipakai oleh Tuhan. Melalui pamflet “Hidup dengan Cara Berbeda,”
banyak penduduk Bangladesh yang menjadi paham akan manfaat dari pola
makan vegetarian, dan para inisiat berharap agar alamat situs Asosiasi
Internasional Maha Guru Ching Hai yang tercetak dalam
selebaran-selebaran tersebut akan dapat memperkenalkan Metode Quan Yin
dengan lebih baik kepada mereka dan membawa lebih banyak Cahaya Ilahi
ke negara mereka.
Pada tanggal 4 dan 11 Februari, dua puluh enam orang inisiat pergi ke Mesir. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok. Sebelum perjalanan tersebut, para anggota tim pekerja membaca informasi tentang penduduk, adat kebiasaan, dan iklim negara tersebut. Para inisiat kemudian menyadari bahwa ini merupakan suatu misi yang menantang, meskipun demikian, mereka tetap melakukan perjalanan dengan keyakinan bahwa “Tuhan akan mengatur segalanya.”
![]() |
![]() |
![]() |
Agen perjalanan dari para inisiat memesan tiket pesawat dan hotel, tetapi tidaklah mengatur transportasi dari lapangan udara setempat ke hotel mereka. Tetapi, secara kebetulan, pada hari kedatangan mereka, seorang pemandu wisata dari Formosa membantu mereka mendapatkan transportasi ke hotel dan seorang pemandu lokal. Para inisiat sangatlah bersyukur kepada Tuhan atas pengaturan-Nya itu. Dan pada kesempatan lain dalam peristiwa tersebut, pemilik hotel mengekspresikan keprihatinannya tentang jalur perjalanan yang akan ditempuh para inisiat dan karenanya mereka menerima usulnya untuk membiarkan manajer humas hotel tersebut merencanakan jalur yang lebih sesuai dibandingkan dengan jalur yang telah direncanakan sebelumnya. Sekali lagi mereka berterima kasih pada Tuhan atas pengaturan-Nya.
Kelompok pertama inisiat menetap di dekat Kairo, sementara kelompok yang kedua pergi ke Aleksandria di bagian Utara dan ke Aswan dan Luxor di bagian Selatan. Pada tanggal 5 Februari, kelompok pertama mendistribusikan pamflet di Lapangan Maydan al-Atabah yang merupakan tempat perbelanjaan yang paling ramai di Kairo, di mana orang-orang menerima pamflet-pamflet tersebut dengan tangan terbuka dan beberapa di antara mereka bahkan datang untuk mendapatkan pamflet tersebut. Karenanya, 3.000 lembar pamflet dapat habis dibagikan dalam waktu satu jam. Kemudian, saat melewati Universitas Kairo, tim pekerja memperhatikan adanya kerumunan besar mahasiswa di bagian luar pintu masuk, oleh karena itu mereka berhenti dan membentuk tiga kelompok untuk mendistribusikan selebaran-selebaran tersebut. Pada lokasi yang paling ramai mereka sekali lagi menyaksikan sifat orang-orang Mesir yang bersemangat dan penuh rasa ingin tahu. Karena para inisiat tidak diizinkan untuk berada dalam kampus, sejumlah besar mahasiswa menjulurkan tangan mereka keluar dari dalam pagar untuk mendapatkan pamflet tersebut. Dan setelah membaca isinya dengan seksama, banyak yang menengok serta mengacungkan jempol kepada para inisiat sambil berkata, “Ini hebat!”
Dalam beberapa hari berikutnya, tim pekerja juga mengunjungi beberapa tempat-tempat perbelanjaan yang ramai, seperti pasar Khan al-Khalili dan pasar Suq al-Nahhasin, sekolah-sekolah, dan stasiun kereta api bawah tanah. Orang-orang sering memberikan acungan jempol dan memuji para inisiat karena telah melakukan hal yang luar biasa. Dan setelah menyelesaikan pendistribusian selebaran, sekelompok penjaja keliling di sekitar tempat tersebut dengan hangatnya bertepuk tangan untuk para saudara dan saudari inisiat, meminta mereka untuk datang kembali pada hari berikutnya.
Pada hari terakhir dari perjalanan mereka, para inisiat mengunjungi wilayah Imbaba dekat pelabuhan sungai Kairo. Di sana mereka menemukan terminal bus dan mobil penumpang dengan tempat-tempat perbelanjaan yang ramai di dekat terminal tersebut, dan kebetulan sekolah baru saja usai untuk hari itu dan segerombolan murid-murid akan pulang ke rumah. Banyak orang berkerumun dan berharap untuk mendapatkan selebaran itu. Bahkan supir-supir bus dan mobil penumpang tersebut berhenti untuk mendapatkan selebaran. Oleh karena itu, 6.000 lembar pamflet habis dibagikan dalam waktu satu setengah jam.
Melalui
usaha pendistribusian selebaran di Mesir, para inisiat menjumpai sifat
yang bersemangat dan bersahabat dari orang-orang Mesir, di mana banyak
yang memuji mereka karena telah melakukan kerja yang baik. Mereka
bahkan menggunakan bahasa Inggris untuk menyambut para inisiat di
negara mereka. Sesekali, orang-orang yang pada mulanya menolak
selebaran tersebut, kemudian datang kembali dan meminta selebaran itu
setelah mendengar isi dari selebaran tersebut. Setelah mengetahui pesan
yang terdapat dalam selebaran tersebut, beberapa penjaja keliling
setempat dan para anak muda dengan sukarela ikut membantu
pendistribusian dan menjelaskan kepada orang-orang yang lewat. Selain
itu, kapan pun mereka mendapatkan masalah atau rintangan, para saudara
dan saudari inisiat senantiasa saling mengingatkan satu sama lain untuk
berdoa meminta berkah Tuhan. Untuk kasus-kasus seperti itu, apa yang
kita butuhkan adalah membuang segala prasangka dan berserah diri secara
total kepada daya kuasa Tuhan sehingga kita dapat memberi pelayanan
yang sepenuhnya dan berperan sebagai alat untuk menyebarkan informasi
tanpa-kekerasan yang mulia ini ke seluruh dunia.
![]() |
Fiji adalah sebuah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 300 pulau di Pasifik Selatan. Fiji mempunyai industri pariwisata yang berkembang. Para kesempatan itu, tim kerja mendistribusikan selebaran di daerah Suva, ibukota negara tersebut. Kota Suva dihuni oleh sepertiga dari populasi negara tersebut. Mereka juga mendistribusikan selebaran di kota-kota yang berdekatan seperti Nausori, Nadi, dan Lautoka.
Pada
tanggal 28 Januari, tim pekerja memulai usaha mereka di pusat kota
Suva. Mereka mendistribusikan 8.000 selebaran di siang hari itu juga.
Pada hari Sabtu keesokan harinya, saat jalanan sangatlah ramai, tim
tersebut membagi diri menjadi dua kelompok untuk menghemat waktu dan
mempertinggi efisiensi. Kelompok pertama yang beranggotakan tujuh orang
tetap tinggal di Suva untuk mendistribusikan sekitar 16.000 selebaran.
Kelompok lainnya yang terdiri dari tiga inisiat Formosa dan seorang
rekan sepelatihan setempat menggunakan taksi ke Nausori untuk
mendistribusikan 8.000 selebaran. Pada hari Minggu, saat para penduduk
setempat kebanyakan pergi ke gereja, jalan-jalan sangatlah sepi dan
toko-toko ditutup. Waktu luang ini digunakan oleh para inisiat untuk
beristirahat dan menyusun rencana selanjutnya. Dan pada hari keempat
dari kunjungan mereka di Fiji, para inisiat melakukan perjalanan ke
Nadi dan Lautoka. Mereka berharap dapat menemukan banyak orang setempat
yang sedang pergi ke sekolah atau bekerja. Saat mereka mendistribusikan
pamflet Guru, pesan-Nya disambut dengan hangat, dan 12.000 lembar
selebaran yang tersisa itu dapat terdistribusikan habis di pagi itu
juga. Karenanya, syukur atas berkah Guru, misi tersebut dapat
terselesaikan dalam waktu yang sangat singkat.
![]() |
![]() |
Terletak di Pasifik Barat, Guam adalah sebuah pulau yang berukuran kira-kira dua kali ukuran kota Taipei dan negara ini menikmati sinar matahari sepanjang tahun serta memiliki penduduk yang lugu dan hidup secara sederhana. Dari tanggal 3 - 6 Februari, para inisiat mendistribusikan selebaran-selebaran di Kantor Gubernur, pusat-pusat administrasi, terminal bus, pasar-pasar, sekolah-sekolah, dan rumah sakit di pulau tersebut. Kebanyakan dari penduduk pulau tersebut adalah umat Kristen yang saleh dan dengan sukacita menerima selebaran-selebaran tersebut di luar gedung gereja. Pada kesempatan itu, para inisiat bertemu dengan seorang wanita yang bervegetarian penuh dan memiliki toko yang menjual makanan vegetarian. Wanita itu sangat gembira saat mengetahui bahwa ia memiliki pamahaman yang sama dengan para praktisi dan ia dengan penuh semangat memberi nomor telepon dan mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi mereka di suatu waktu.
Saat mendistribusikan
selebaran-selebaran tersebut, tim pekerja juga bertemu dengan beberapa
guru yang penuh antusias dan dengan senang hati mengajukan diri untuk
membantu mendistribusikan selebaran tersebut di sekolah mereka. Dalam
perjalanan ini, sekitar 26.000 lembar selebaran telah didistribusikan,
dan iklan tentang selebaran ini juga ditempatkan di surat kabar lokal
yang ternama. Mereka berharap dapat menyampaikan pesan selebaran
tersebut ke penduduk Guam yang lebih banyak.
Kamboja terletak di bagian selatan dari Semenanjung Indocina dan bersebelahan dengan negara Au Lac, Laos, dan Thailand. Pada tanggal 3 Februari, sepuluh rekan inisiat pergi ke ibukota Kamboja, Pnom Penh dan menbawa sekitar 40.000 lembar selebaran yang tercetak dalam bahasa Khmer. Begitu mereka tiba, tim pekerja membagi diri menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari dua orang dan pergi mengurus iklan di surat kabar setempat, sedangkan kelompok lainnya yang terdiri dari delapan orang langsung pergi ke pasar terbesar di kota tersebut, Pasar Sentral.
Agar
dapat menyebarkan pesan tersebut secara luas, dini hari berikutnya para
praktisi menyewa sebuah mobil dan pergi ke Battambang lalu memutari
Danau Tonle Sap menuju ke Siemreap sebelum kembali ke Pnom Penh melalui
Jalur Bebas Hambatan no.5. Tempat-tempat perhentian meliputi Kampong
Chnnang, Pursat, Battambang, Bamteay, Meanchey, Siemreap, Kampong Thom,
dan Kampong Cham di mana pamflet-pamflet tersebut dengan cepat
terdistribusikan pada setiap lokasi dan hampir setiap orang dewasa
maupun anak-anak sangat menghargai isi dari selebaran itu dan
membacanya dengan penuh perhatian. Bahkah tidak ada satu penduduk pun
yang membuang selebaran tersebut. Para pengendara sepeda motor juga
berhenti untuk mengambil selebaran tersebut dan membacanya dengan
seksama. Sangatlah mengharukan saat melihat perilaku mereka yang penuh
rasa terima kasih dan kesungguhan! Kadang-kadang saat kerumunan orang
terlalu banyak dan para inisiat tidak dapat mendistribusikannya ke
semua orang dalam waktu yang bersamaan, orang-orang yang belum
mendapatkan selebaran tersebut dengan sabar menunggu di samping atau
akan kembali kemudian untuk mendapatkan selebaran tersebut. Kebanyakan
orang menerima selebaran tersebut dengan kedua belah tangan mereka dan
dengan penuh rasa hormat. Beberapa dari mereka bahkan mengusap tangan
di baju mereka sebelum mengambil selebaran tersebut sambil tersenyum
malu. Karena itu, para inisiat sangat gembira menyaksikan pesan dari
Guru yang sangat dihargai oleh orang-orang setempat.
Sebelum memulai perjalanan, tim pekerja telah menghubungi Bapak Pan yang sangat ingin membantu orang-orang Kamboja. Selain mengatur masalah pemandu wisata dan transportasi, ia juga mengurus para inisiat dengan sangat baik selama perjalanan mereka. Ia sesungguhnya adalah malaikat pelindung yang dikiriim oleh Tuhan! Bapak Huang dari Battambang adalah seorang kenalan dari Bapak Pan. Dia menunggu para inisiat di jembatan selama beberapa jam dengan sabar, dan yang lebih menyentuh lagi adalah karena ia harus bersepeda sejauh 6 kilometer untuk sampai ke sana! Selain sangat rendah hati dan jujur, Bapak Huang juga sangat mendukung ajaran Guru tentang pola makan vegetarian, dan dengan panduannya, tim pekerja mengunjungi banyak biara agama Buddha dan restoran vegetarian di mana semua orang sangat senang membantu menyebarkan pesan “Hidup dengan Cara Berbeda.” Saat mendistribusikan selebaran tersebut di Pasar Battambang, para inisiat bertemu dengan seorang guru Inggris yang masih muda yang menerima semua aliran kepercayaan. Dan setelah mempelajari selebaran Guru dengan seksama, ia setuju dengan ide Guru dan mendapatkan orang-orang untuk membantu pendistribusian 3.000 lembar selebaran.
Di Siemreap, Bapak Pan membawa tim pekerja ke Taipei Overseas Peace Services (TOPS) (Pelayanan Perdamaian Luar Negeri Taipei), suatu badan yang mengabdi untuk mempromosikan pendidikan non-konvensional, termasuk pelayanan kesehatan dan medis bagi para pengungsi dan penduduk yang melarat di daerah terbelakang. TOPS telah memilih 15 daerah yang termiskin untuk meluncurkan proyek ini, dan setelah memahami maksud perjalanan para inisiat, partisipan TOPS memutuskan bahwa mereka memiliki pemahaman yang serupa, dan sangat bersukacita untuk membagi pesan Guru dengan orang-orang di daerah tersebut. Juga, agar dapat membantu saudara-saudari yang menderita kemiskinan di Kamboja, para praktisi menawarkan kontribusi keuangan kepada wakil TOPS.
Demikianlah, meskipum kegiatan
penyebaran pamflet “Hidup dengan Cara Berbeda” di bulan
Januari-Februari 2006 hanya berlangsung selama lima hari saja, akan
tetapi semua aspek pekerjaan itu berjalan dengan sangat mulus dan usaha
pendistribusian tersebut sangat penuh dengan kebetulan-kebetulan karena
berkah kasih Guru sehingga upaya tersebut menjadi pengalaman yang
berguna dan luar biasa bagi murid-nurid dari Formosa dan setiap orang
yang terlibat.