Refleksi dalam Latihan Rohani
Beberapa waktu yang lalu, kartu-kartu tunai (cash cards) sering diiklankan di televisi. Setelah berulang kali melihat iklan ini, saya jadi berpikir bahwa mempunyai kartu tunai sama dengan meminjam uang, karena bank akan membayarkan belanjaan saya pada saat itu, tetapi nanti saya tetap harus bayar ke bank itu kembali. Saya ingat dulu Guru pernah bercerita bahwa dia selalu memeriksa kondisi keuangan-Nya sebelum membeli sesuatu. Jika tidak punya cukup uang, Beliau tidak akan membelinya. Beliau tidak meminjam atau membayar dengan angsuran. Ini memengaruhi sikap saya terhadap kartu tunai. Setiap kali saya melihat iklan kartu tunai di TV, saya memberitahu keluarga saya, "Guru tidak mendorong kita untuk meminjam uang dari orang lain. Penggunaan kartu tunai sama dengan meminjam uang. Pada akhirnya kita harus mengembalikan uang kepada bank itu. Tak ada satu pun yang datang dengan cuma-cuma di dunia ini. Jika kita tidak belajar untuk mendisiplinkan diri kita sekarang, bayangkan apa yang mungkin terjadi jika kita membeli terlalu banyak barang dan tidak mampu membayarnya kembali?" Saya juga dengan sabar menerangkan hal ini kepada putri saya yang lebih mudah terpengaruh oleh iklan-iklan ini karena ia masih belajar di sekolah dasar. Tidak
lama berselang, tiba-tiba muncul sejumlah berita tentang orang-orang
yang tidak mampu membayar kembali uang yang telah mereka gunakan
sebelumnya melalui sejumlah bank. Sejak itu, keluarga saya telah
belajar dari contoh hidup Guru yang bijaksana. Bahkan putri kecil saya
sekarang memahami bagaimana cara belajar dan mendapat manfaat dari
kata-kata Guru. Sebagai orang tua, saya merasakan kedekatan dengan anak
saya sendiri setiap kali saya berkomunikasi dengannya melalui ajaran
Guru yang dapat diterimanya dengan mudah. Saya sangat berterima kasih
kepada Guru atas setiap kesempatan yang muncul untuk belajar dari
ajaran-Nya, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
|